oleh

Undhuh-undhuh GKJW Sidorejo: Perayaan Syukur Panen Berbalut Budaya Jawa yang Meriah di Kediri

Kediri,Wartapanjalu.com– Ribuan warga tumpah ruah di halaman Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW) Jemaat Sidorejo, Desa Sidorejo, Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri, Minggu (12/7/2026). Mereka larut dalam semarak prosesi Undhuh-undhuh, tradisi tahunan yang menyatukan ungkapan syukur religius dengan kekayaan budaya Jawa atas melimpahnya hasil panen.

Sejak pukul 06.00 WIB, suasana di sekitar gereja sudah terasa berbeda. Gunungan berisi aneka hasil bumi diarak meriah dari lapangan desa menuju gedung pertemuan di sisi gereja. Arak-arakan ini menjadi penanda dimulainya rangkaian Undhuh-undhuh, warisan leluhur GKJW yang telah dilestarikan sejak era pasca-kolonial.

Rayakan 128 Tahun GKJW Sidorejo dengan Tradisi Leluhur
Perayaan tahun ini terasa lebih istimewa. Undhuh-undhuh sekaligus menjadi bagian dari peringatan 128 tahun GKJW Jemaat Sidorejo. Gereja bersejarah ini berdiri pada 2 Juli 1898 dan awalnya berada di wilayah bernama Parerejo, sebelum berganti nama menjadi Sidorejo pada 11 November 1936.

Undhuh-undhuh sendiri adalah hari raya persembahan khas GKJW. Lebih dari sekadar ritual, tradisi ini menjadi wujud nyata syukur jemaat kepada Tuhan atas panen yang diberikan, sekaligus ajakan untuk terus berbagi berkat dengan sesama.

Gamelan, Tarian, dan Busana Adat Warnai Prosesi
Kemeriahan terasa di setiap sudut acara. Sebanyak 11 kelompok jemaat tampil membawakan beragam tarian bernuansa Jawa. Anak-anak hingga orang tua dewasa kompak mengenakan busana adat lengkap. Tabuhan gamelan yang mengalun mengiringi setiap gerak tari, menciptakan suasana tradisi yang kental dan mengharukan.

Panitia acara, Lulus Nugraheni, menjelaskan bahwa Undhuh-undhuh rutin digelar tiap Juli sebagai ungkapan syukur jemaat.

“Setiap tahun di bulan Juli kami laksanakan. Tahun ini ada pelelangan hasil bumi sebagai persembahan syukur dari kelompok-kelompok jemaat setelah acara selesai,” ujar Lulus di sela kegiatan.

Meski tradisi ini sudah ada sejak zaman nenek moyang, GKJW Sidorejo Pare mulai menambahkan prosesi arak-arakan gunungan sejak 2017. Tujuannya jelas: mengangkat budaya lokal Kediri agar makin dikenal.

“Tradisi ini warisan leluhur. Tapi sejak 2017 kami buat arak-arakan supaya budaya lokal Kediri makin terangkat,” imbuhnya.

Simbol Syukur dan Kreativitas Warga
Setiap gunungan dan hasil bumi yang dibawa jemaat bukan sekadar pajangan. Semua itu adalah simbol syukur kepada Tuhan. Tarian yang ditampilkan pun sarat pesan moral tentang kebersamaan dan pentingnya bersyukur.

“Lewat kegiatan spiritual dan religi, kita bisa angkat budaya lokal. Ketika diintegrasikan, kreativitas warga jadi makin tinggi. Ada pesan moral yang arahnya tetap ucapan syukur pada Tuhan,” tutur Lulus.

Usai doa bersama dan pentas seni, acara dilanjut dengan lelang parcel dan hasil bumi dari gunungan. Parcel berisi makanan, buah, dan minuman dijual mulai Rp75 ribu. Hasil bumi dilelang ke penawar tertinggi. Seluruh hasil penjualan akan digunakan untuk mendukung pelayanan gereja.

“Di desa ini semua saling kenal. Toleransinya kuat, guyup rukun. Gereja jadi tempat mereka berkumpul bersama,” ungkap Lulus.

Harapan Warga: Rezeki Lancar dan Kebersamaan Terjaga
Bagi warga, Undhuh-undhuh selalu dinanti. Sheila, salah satu peserta, mengaku tak pernah absen tiap tahun. Baginya, ini bukan hanya ibadah, tapi juga momen mempererat kebersamaan.

“Semoga doanya jadi berkat untuk umat. Rezeki dilancarkan dan semua diberi kesehatan,” harapnya.

Kepala Desa Sidorejo, Bagus Krisdijanto, menegaskan bahwa GKJW tak bisa dipisahkan dari sejarah panjang Desa Sidorejo yang berkembang sejak masa kolonial Belanda. Mayoritas warga Sidorejo memang umat Kristiani.

Menurut cerita sesepuh, gereja dibangun beriringan dengan pembukaan lahan tembakau dan kopi di tanah subur bekas aliran lahar Gunung Kelud. Dulu wilayah ini bernama Parerejo Gerojogan, sebelum menjadi Sidorejo pada 11 November 1936.

Meski warganya beragam, Bagus menyebut kehidupan sosial di Sidorejo tetap rukun. Warga saling bantu dalam kegiatan keagamaan maupun sosial.

Bukti Harmoni Agama dan Budaya
Tradisi Undhuh-undhuh di GKJW Sidorejo menjadi bukti nyata bahwa nilai religius bisa berjalan beriringan dengan pelestarian budaya lokal. Iman dan tradisi tidak saling meniadakan, justru saling menguatkan dan memperkaya kehidupan warga.(Nang)