oleh

Rencana Flyover Mengkreng Kembali Bergulir Usai Insiden Petugas Perlintasan Ketiduran

Kediri,Wartapanjalu.com–Rencana Flyover Mengkreng Kediri, Masih teringat jelas detik-detik menegangkan yang sempat terekam kamera warga dan mendadak viral di media sosial, Rabu (22/7/2026) dini hari lalu. Sebuah KA Brantas melaju kencang melintasi perlintasan kereta api di Simpang Mengkreng, Kabupaten Kediri. Namun, palang pintu perlintasan tampak masih membumbung tinggi ke atas.

​Usut punya usut, insiden nyaris celaka itu dipicu hal sepele yang berdampak fatal: sang petugas penjaga palang diduga ketiduran akibat kelelahan.

​Meski tidak sampai menelan korban jiwa, riak dari peristiwa itu rupanya sampai ke meja Pemprov Jawa Timur dan Kementerian Perhubungan (Kemenhub). Insiden tersebut bak alarm keras yang membangkitkan kembali ingatan publik atas janji manis infrastruktur yang tertunda puluhan tahun: pembangunan flyover Simpang Mengkreng.

Ketika Kelalaian Manusia Menjadi Alarm Bahaya
​Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Elestianto Dardak, tak menampik bahwa insiden di Mengkreng adalah wujud nyata dari ancaman human error yang sewaktu-waktu bisa berujung tragedi. Apalagi, catatan kelam masih segar di ingatan saat kecelakaan serupa menelan korban di Magetan tahun lalu akibat asumsi salah petugas perlintasan.

​”Kekhawatiran kami bukan sekadar ketiduran itu tadi, bukan. Tapi bagaimana faktor human error ini bisa memicu bahaya besar. Ini menjadi perhatian serius kami,” ujar Emil penuh penekanan.
​Emil membeberkan, pemetaan perlintasan sebidang di Jawa Timur saat ini memang cukup meresahkan:

​213 JPL Resmi Tanpa Palang: Sudah terdaftar resmi, namun belum memiliki palang pengaman dan membutuhkan anggaran untuk gaji penjaga.

​83 JPL Liar: Perlintasan tak berizin yang harus ditindak tegas dengan penutupan demi keselamatan warga.

​Beban 12 Jam Kerja di Balik Palang Pintu
​Menanggapi keprihatinan Pemprov Jatim, Balai Teknik Perkeretaapian (BTP) Kelas I Surabaya DJKA Kemenhub membongkar akar masalah di lapangan. Kepala BTP Kelas I Surabaya, Denny Michels Adlan, menyebut keterbatasan Sumber Daya Manusia (SDM) membuat beban kerja petugas perlintasan terlampau berat.

​”Masih banyak permasalahan, salah satunya SDM yang sangat terbatas. Bahkan kami menemukan ada petugas yang harus berjaga hingga 12 jam sendirian,” ungkap Denny.

​Faktor kelelahan ekstrem inilah yang membuat kewaspadaan petugas menurun hingga tak sengaja tertidur. Sebagai langkah mitigasi cepat, Kemenhub akan berkolaborasi dengan pemerintah daerah untuk menambah personel demi pola pembagian jam kerja (shifting) yang lebih manusiawi, sembari mengkaji pemanfaatan teknologi pembantu.

​Di sisi lain, Kepala Dinas Perhubungan Provinsi Jatim, Nyono, memastikan bahwa seluruh petugas perlintasan di bawah naungan Pemda sebenarnya dibekali pelatihan ketat selama dua minggu di Akademi Perkeretaapian (PPI) Madiun guna mengantongi sertifikat resmi.

Namun, faktor fisik di lapangan tetap tak bisa dibohongi.​Wis Wayahe: Menagih Janji Flyover Mengkreng yang Tertunda 20 Tahun

​Khusus kawasan Mengkreng, persoalannya tak berhenti pada urusan palang dan petugas. Kawasan ini merupakan ‘titik horor’ kemacetan Jawa Timur karena menjadi simpul temu jalur nasional dari tiga kabupaten sekaligus: Kediri, Nganjuk, dan Jombang.

​Solusi permanen sejatinya sudah di depan mata, yakni pembangunan jalan layang (flyover). Usulan ini bahkan telah direstui dan diajukan bersama oleh Gubernur Jawa Timur serta tiga bupati terkait.

​Sejarah mencatat, rencana pembangunan flyover Mengkreng sebenarnya sudah digagas oleh Ditjen Bina Marga sejak tahun 2007 silam. Sayangnya, kala itu proyek ditangguhkan karena pemerintah mendahulukan pembangunan flyover Peterongan.

​”Ini sudah hampir 20 tahun. Harusnya flyover Mengkreng ini sudah berdiri tegak. Wis wayahe (sudah waktunya),” pungkas Emil tegas, Jum’at (24/7/2026).

​Kini, keputusan ada di tangan pemerintah pusat. Masyarakat hanya bisa berharap, janji infrastruktur yang tertahan dua dekade ini benar-benar terealisasi sebelum kelalaian manusia berikutnya kembali mempertaruhkan nyawa di atas rel kereta.(Nang)