oleh

1.147 Tahun Kota Kediri: Manusuk Sima Pulang ke Tirtoyoso, 1.407 Anak Yatim Dapat Berkah

Kediri,Wartapanjalu.com–uasana Taman Tirtoyoso Kota Kediri tak seperti biasanya, Senin (27/7/2026). Semarak, hangat, dan penuh makna.

Ratusan warga tumpah ruah bersama jajaran Forkopimda, pejabat daerah, hingga tokoh kebudayaan. Mereka bukan sekadar merayakan ulang tahun kota, tapi napak tilas 1.147 tahun peradaban. Puncak Hari Jadi Kota Kediri tahun ini dikemas apik dalam balutan prosesi adat sakral Manusuk Sima dan aksi sosial yang menyentuh hati.
Berkah 1.147 Tahun untuk 1.407 Anak Yatim
Jika biasanya peringatan hari jadi identik dengan pesta, Pemkot Kediri memilih jalan berbeda. Kebahagiaan dirayakan dengan berbagi.

Sebanyak 1.407 anak yatim se-Kota Kediri menerima Bantuan Langsung Tunai (BLT) masing-masing Rp600.000. Mereka adalah anak-anak usia maksimal 18 tahun yang masuk dalam desil 1 hingga 5.

Kepala Dinas Sosial Kota Kediri, Imam Muttakin menegaskan, ini bukan sekadar bantuan seremonial.
“Hari ini kita menyerahkan bantuan kepada kategori penerima anak yatim. Momen ini kita rangkaikan bersamaan dengan hari puncak Hari Jadi Kota Kediri, yaitu upacara adat Manusuk Sima,” ujar Imam.

“Harapannya, adik-adik ini dapat ikut bersuka cita menikmati Hari Jadi Kota Kediri. Bantuan ini juga diharapkan dapat membantu membiayai kebutuhan sekolah, kesehatan, maupun kebutuhan pokok sehari-hari,” tambahnya.

Pulang ke Rumah Asal: Manusuk Sima Kembali ke Tirtoyoso

Ada yang spesial tahun ini. Setelah tiga tahun digelar di Balai Kota, prosesi kolosal Manusuk Sima akhirnya pulang ke rumahnya, Tirtoyoso Park.

Wali Kota Kediri, Vinanda Prameswati atau akrab disapa Mbak Wali, menyebut kepulangan ini bukan tanpa alasan.

“Kembalinya prosesi Manusuk Sima ke kawasan Tirtoyoso ini bukan tanpa alasan. Kawasan ini memiliki kedekatan sejarah yang sangat erat dengan lahirnya Kota Kediri. Di sinilah jejak kawasan Kuwak, yang dicatat dalam Prasasti Kwak berangka tahun 879 Masehi, kembali kita hadirkan,” ungkapnya.

Sejarah mencatat, tepat pada 27 Juli 879 M, Sri Maharaja Rake Kayuwangi menetapkan wilayah Kuwak sebagai Tanah Sima. Sebuah tanah perdikan yang mendapat hak istimewa karena jasanya menjaga tempat suci dan sumber air Patirtan Tirtoyoso.

Dengan mengusung tema “Sinergi Lintas Generasi, Mengalir dengan Inovasi, Teguh dalam Tradisi”, Mbak Wali mengajak warga untuk tidak melupakan akar.

“Kemajuan sebuah kota tidak lahir secara instan. Ia tumbuh dari kerja keras, gotong royong, penghormatan terhadap alam, dan komitmen menjaga nilai-nilai warisan leluhur,” tegasnya.
Disebut Living Museum Satu-satunya di Indonesia
Kekayaan tradisi Kediri ini bahkan membuat Kementerian Kebudayaan RI angkat topi.

Direktur Warisan Budaya Kementerian Kebudayaan, Dr. Agus Widiatmoko, M.Hum, menyebut Kediri adalah kota yang luar biasa.

“Kota Kediri ini luar biasa. Mungkin satu-satunya kota di Indonesia yang mampu menafsir ulang dan merekonstruksi sebuah prasasti menjadi peristiwa budaya hidup (living museum) melalui upacara Manusuk Sima,” pujinya.

Menurutnya, fondasi peradaban Kediri sangat tinggi. Dari tanah inilah lahir karya sastra monumental seperti Smaradahana, Kresnayana, hingga kisah Panji yang melegenda hingga Thailand, Kamboja, dan Myanmar.

Sebagai bentuk dukungan, Kementerian berkomitmen merevitalisasi tata pamer museum di Kediri dan mengawal Tenun Ikat Kediri agar segera ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTB) Nasional.
Ditutup Pantun, Disambut Riuh Tepuk Tangan
Kehangatan terasa hingga akhir acara. Warga antusias menyaksikan prosesi adat, berbaur tanpa sekat dengan para pemimpinnya.

Puncak acara ditutup manis dengan pantun dari Mbak Wali yang disambut riuh tepuk tangan:

Bersepeda ke Banjar Melati,
Singgah di Tirtoyoso nan asri.
Tradisi kita jaga sepenuh hati,
Bersama membangun Kota Kediri.

1.147 tahun telah terlewati. Kediri membuktikan, inovasi bisa mengalir deras, tanpa pernah memutus aliran tradisi dan kepedulian.(Nang)