oleh

KECOLONGAN! Cikar Mbah Gleyor ODCB Dirusak, Baru Sadar Pentingnya CCTV

Kediri,Wartapanjalu.com— Nasib memprihatinkan menimpa Cikar Mbah Gleyor, benda bersejarah yang berada di Dusun Kertosari, Desa Kandat, Kecamatan Kandat, Kabupaten Kediri. Objek yang diyakini sebagai peninggalan Adipati Djojohadiningrat itu penuh coretan cat usai menjadi korban vandalisme.

Menindaklanjuti kejadian tersebut, Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Jawa Timur langsung melakukan observasi dan uji coba pembersihan di lokasi, Rabu (12/8/2026). Bersama Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Kediri, tim konservator menguji sejumlah metode agar cat bisa hilang tanpa merusak kayu.

Seperti diketahui, Cikar Mbah Gleyor ditemukan dalam kondisi dicat warna-warni pada Jumat (31/7/2026). Pelakunya berinisial D (45), warga Desa Sumberejo, Kecamatan Kandat, yang diketahui mengalami gangguan jiwa (ODGJ). Meski sempat diamankan, proses hukum dihentikan.

Dibersihkan Bertahap, Cat Putih Pakai Alkohol, Cat Hijau-Cokelat Pakai Etil Asetat

Konservator BPK Jawa Timur, Ahmad Latif, menjelaskan pembersihan tidak bisa dilakukan sembarangan. Kondisi kayu yang sudah tua dan lapuk menjadi pertimbangan utama.

“Yang pertama kami coba pembersihan mekanis menggunakan air. Informasinya, menggunakan air tidak bisa. Kemudian kami coba bahan lain seperti alkohol dan etil asetat,” kata Ahmad di lokasi.

Dari hasil uji coba, cat berwarna putih ternyata bisa dibersihkan menggunakan alkohol, meski prosesnya memakan waktu cukup lama. Sementara untuk cat berwarna hijau dan cokelat harus menggunakan etil asetat, lalu dilanjutkan dengan alkohol.

Prosesnya dilakukan secara manual dan hati-hati. Bagian yang terkena cat dibasahi cairan pembersih, disikat perlahan, kemudian dibilas dan langsung dilap kering.

“Setiap pelaksanaan pembersihan harus selalu dilap untuk mengurangi kelembapan. Setelah disikat, dilap lagi sampai dirasa bersih,” jelasnya.

Saat ini, BPK Jatim masih menghitung total kebutuhan bahan dan waktu untuk membersihkan seluruh badan cikar. Uji coba baru dilakukan di beberapa titik untuk mengukur tingkat kesulitan. Hasilnya nanti akan dituangkan dalam laporan resmi sebagai rekomendasi penanganan.

“Dari hasil survei ini akan kami tulis dalam laporan. Nanti rekomendasi penanganannya seperti apa, bahan yang dibutuhkan, jumlahnya, serta perkiraan waktu penanganan untuk satu objek keseluruhan,” ujar Ahmad.

Perawatan Pakai Ramuan Tradisional Cegah Rayap

Tak hanya soal pembersihan, BPK Jatim juga menyiapkan rekomendasi perawatan jangka panjang agar Cikar Mbah Gleyor lebih awet. Salah satunya dengan metode tradisional yang sudah diterapkan di kawasan konservasi Candi Borobudur.

Metode itu menggunakan air rendaman tembakau, cengkeh, dan pelepah pisang.

“Ini untuk perawatan objek berbahan kayu secara tradisional, juga untuk memunculkan serat kayu lebih bagus dan mencegah rayap,” tutup Ahmad Latif.

Dewan Kebudayaan: Jadi Lecutan Pengamanan Cagar Budaya

Sementara itu, Ketua Dewan Kebudayaan Kabupaten Kediri, Imam Mubarok, menyebut kehadiran BPK Jatim menjadi langkah penting. Menurutnya, kasus vandalisme ini menjadi alarm keras bahwa pengamanan benda bersejarah di Kediri masih lemah.

“Kejadian ini merupakan semacam lecutan bagi kita bahwa pengamanan cagar budaya menjadi prioritas,” kata pria yang akrab disapa Gus Barok itu.

Gus Barok mengaku telah meminta Bupati Kediri untuk memasang kamera pengawas atau CCTV di sekitar lokasi Cikar Mbah Gleyor. Selain itu, perlu dipasang papan informasi yang menegaskan bahwa benda tersebut memiliki nilai sejarah dan dilindungi undang-undang.

“Dalam Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya, tanggung jawab ini tidak hanya pemerintah, tetapi semuanya untuk menjaga,” tegasnya.

Ia menjelaskan, saat ini Cikar Mbah Gleyor masih berstatus Objek Diduga Cagar Budaya (ODCB) dan belum ditetapkan resmi sebagai cagar budaya. Namun kuatnya cerita tutur masyarakat membuat benda ini sangat penting untuk dijaga.

Secara historis, Cikar Mbah Gleyor dikaitkan dengan Adipati Djojohadiningrat. Konon, cikar tersebut merupakan kendaraan yang digunakan sang adipati untuk menyapa rakyatnya. Kisahnya bahkan diyakini berkaitan dengan asal-usul nama Kecamatan Kandat. Adipati Djojohadiningrat sendiri dalam catatan lokal disebut ditangkap Belanda dan diasingkan ke Manado.

Gus Barok berharap pengamanan tidak berhenti di Cikar Mbah Gleyor saja. Pasalnya, Kabupaten Kediri memiliki banyak objek sejarah dan temuan baru yang perlu perhatian.

“Harapannya masyarakat ikut menjaga dan mengambil bagian. Kalau ada apa-apa, koordinasi dengan desa, kemudian ke dinas dan kita tindak lanjuti bersama,” pungkasnya.(Sum)