Kediri,WartaPanjalu.com — Polemik pembangunan pagar makam di Kelurahan Campurejo, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri, memasuki babak baru. Palang bambu yang sebelumnya dipasang sebagian warga RT 19 untuk menutup akses menuju makam akhirnya dibuka kembali pada Jumat (18/9/2026).
Pembukaan palang dilakukan oleh Ketua RT 19 bersama Ketua RW. Proses tersebut disaksikan Camat Mojoroto, Lurah Campurejo, perangkat kelurahan, tiga pilar, serta masyarakat setempat.
Akses Makam Kembali Terbuka
Sebelumnya, palang bambu yang dipasang di jalur menuju makam sempat menghambat aktivitas masuknya material bangunan.
Setelah palang dibuka, akses menuju area makam kembali lancar. Kendaraan pengangkut material pun dapat masuk untuk mendukung pengerjaan pembangunan yang dilakukan oleh Kelompok Masyarakat (Pokmas).
Langkah tersebut sekaligus memastikan jalur menuju makam tetap bisa digunakan masyarakat, termasuk ketika dibutuhkan untuk kepentingan tertentu maupun kondisi darurat.
Sebagian Warga Masih Menyampaikan Keberatan
Meski akses telah dibuka, persoalan pembangunan pagar belum sepenuhnya selesai. Sebagian warga RT 19 masih menyampaikan keberatan terhadap rencana dan proses pembangunan tersebut.
Ketua Pokmas, Heru Hermawan, mengatakan pembangunan pagar dilaksanakan berdasarkan Rencana Anggaran Biaya (RAB) dan gambar yang sebelumnya telah disepakati oleh 29 RT.
Namun, Heru menegaskan pihaknya tetap membuka ruang apabila dalam pelaksanaan ditemukan bagian yang perlu disesuaikan.
Menurutnya, setiap persoalan yang muncul di lapangan dapat dibicarakan bersama melalui musyawarah agar pembangunan tetap berjalan tanpa mengabaikan kondisi dan kepentingan masyarakat.
Kecamatan Dorong Akses Tetap Terbuka
Pemerintah Kecamatan Mojoroto juga mendorong agar akses menuju makam tetap terbuka dan tidak terhambat.
Jalur tersebut dinilai penting untuk aktivitas masyarakat, termasuk akses kendaraan pengangkut material maupun kendaraan yang sewaktu-waktu dibutuhkan dalam kondisi darurat.
Dengan dibukanya kembali palang bambu, aktivitas menuju makam kini kembali berjalan. Sementara persoalan terkait pembangunan pagar diharapkan dapat diselesaikan melalui komunikasi dan musyawarah antara warga, Pokmas, serta pihak terkait.
Bagi warga Campurejo, penyelesaian persoalan bukan hanya soal pembangunan fisik, tetapi juga bagaimana akses tetap terjaga dan hubungan antar warga tetap harmonis.(Sum/Her)
