Berawal dari Ruang 3×5 Meter, Suprayitno Ubah Sampah Organik Jadi Pakan Ternak Bernilai Ekonomi
Kediri,WartaPanjalu.com — Jangan buru-buru menganggap sampah sebagai barang tak berguna. Di tangan Suprayitno, warga Dusun Mulyoasri, Desa Bogokidul, Kecamatan Plemahan, Kabupaten Kediri, limbah rumah tangga justru disulap menjadi pundi-pundi rupiah.
Berawal dari kegelisahan melihat persoalan sampah yang tak kunjung selesai, Suprayitno memilih bergerak dari lingkungan rumahnya sendiri.
Bukan dengan modal besar. Bukan pula dengan lahan luas.
Pria yang tinggal di RT 003 RW 002 itu memanfaatkan ruang sederhana berukuran sekitar 3×5 meter di belakang rumah untuk merintis budidaya maggot.
Di ruangan tersebut, siklus maggot dikembangkan mulai dari telur, larva, hingga siap dipanen dan dimanfaatkan sebagai pakan ternak.
Yang membuatnya menarik, hampir seluruh proses dilakukan secara sederhana. Barang-barang bekas yang sudah tidak terpakai ikut dimanfaatkan.
Salah satunya galon bekas air minum ukuran 15 liter yang digunakan sebagai wadah perkembangan maggot.
Bagi Suprayitno, justru di situlah letak konsep usahanya: mengubah sesuatu yang dibuang menjadi sesuatu yang menghasilkan.
“Jadi saya bikin maggot ini terinspirasi dengan sampah-sampah itu. Sampah itu masalah nasional yang selama ini belum bisa diselesaikan,” ujar Suprayitno saat ditemui di kediamannya, Selasa (29/9/2026).
Sampah Basah Jadi “Makanan” Maggot
Bahan baku budidaya maggot yang dijalankan Suprayitno juga tak sulit ditemukan.
Sisa buah, sayuran hingga limbah makanan menjadi santapan bagi maggot. Bahkan, ia mendapatkan tambahan bahan dari sisa makanan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang berasal dari salah satu dapur di sekitar rumahnya.
“Jadi sampah basah itu apapun, sampah buah, sayur, termasuk limbah-limbah makanan itu bisa,” jelasnya.
Dengan memanfaatkan limbah yang tersedia di sekitar, biaya produksi dapat ditekan. Sampah yang sebelumnya hanya berakhir di tempat pembuangan justru berubah menjadi bahan baku yang memiliki nilai.
Suprayitno bahkan memiliki pandangan sederhana tetapi kuat.
“Ini adalah uang sebenarnya. Sampah itu adalah uang. Selama ini cuma dibuang, kita bikin maggot,” katanya.
Cuma 15 Hari, Maggot Sudah Bisa Dipanen
Budidaya maggot juga tidak membutuhkan waktu berbulan-bulan.
Menurut Suprayitno, dari proses awal hingga maggot siap dipanen membutuhkan waktu maksimal sekitar 15 hari.
“Ini sangat mudah, tidak menyita waktu. Sampingan itu sudah luar biasa,” ungkapnya.
Meski baru dirintis kurang dari satu bulan, hasilnya mulai terlihat.
Suprayitno mengaku sudah mendapatkan pesanan dari sejumlah pihak yang membutuhkan maggot sebagai pakan.
Untuk saat ini, maggot hasil budidayanya dijual sekitar Rp10 ribu per kilogram.
Namun, ia tidak ingin berhenti hanya pada menjual maggot.
Suprayitno tengah menyiapkan ekosistem usaha yang lebih besar dengan memanfaatkan maggot sebagai pakan ikan dan ayam yang nantinya juga akan ia ternakkan sendiri.
“Kalau makanan ini sudah siap dari maggot, sudah hemat. Sebenarnya ini bisa jadi ekosistem berjalan,” tuturnya.
Dari Belakang Rumah, Suprayitno Ingin Ajak Warga
Suprayitno berharap apa yang dilakukannya tidak berhenti menjadi usaha pribadi.
Ia membuka kesempatan bagi masyarakat yang ingin belajar budidaya maggot. Bahkan, ia mengaku siap mendampingi warga yang ingin memulainya dari rumah.
Menurutnya, budidaya maggot tidak membutuhkan lahan luas. Ruang terbatas pun bisa dimanfaatkan selama dikelola dengan baik.
Ia juga ingin mengubah anggapan bahwa maggot hanyalah sesuatu yang menjijikkan.
Di balik bentuknya yang mungkin membuat sebagian orang enggan mendekat, terdapat peluang usaha sekaligus solusi pengelolaan sampah.
“Siapapun yang mau bisa belajar, kita siap mendampingi,” katanya.
Target Besar: Putus Rantai Sampah dari Akarnya
Lebih dari sekadar mengejar keuntungan, Suprayitno melihat budidaya maggot sebagai langkah kecil untuk mengurangi persoalan sampah rumah tangga.
Menurutnya, jika masyarakat mulai mengolah sampah organik dari rumah masing-masing, volume sampah yang masuk ke tempat pembuangan akhir (TPA) dapat ditekan.
Sampah organik bisa dimanfaatkan untuk budidaya maggot. Sementara sampah plastik dapat dipilah dan dijual kembali.
Dengan pola tersebut, sampah yang benar-benar dibuang ke TPA nantinya tinggal residu yang memang tidak dapat dimanfaatkan.
“Artinya kita bisa putus rantai sampah dari akarnya,” bebernya.
Suprayitno pun berharap masyarakat mulai mengubah cara pandang terhadap sampah.
Sebab, menurutnya, sesuatu yang selama ini dianggap kotor dan tak bernilai ternyata bisa menjadi bahan baku usaha jika mau diolah.
“Yang plastik disisihkan untuk dijual. Jadi di situ, mengolah limbah itu hasilnya tinggi sebenarnya,” tandasnya.
Dari sebuah ruang kecil di belakang rumah, Suprayitno sedang membuktikan satu hal sederhana: sampah tidak selalu harus berakhir di tempat pembuangan. Jika dikelola, sampah pun bisa berubah menjadi rupiah.(Sum/Her)
