F. Irfando Jovan Kantur persembahkan gelar wisudawan terbaik UNP Kediri untuk sang ibu, Endang, yang berjuang menghidupi keluarga. Usai lulus, ia bersiap melanjutkan studi di Surabaya.
Kediri,WartaPanjalu.com — Keterbatasan ekonomi tidak menghalangi F. Irfando Jovan Kantur meraih prestasi akademik. Mahasiswa Program Studi Akuntansi Universitas Nusantara PGRI (UNP) Kediri itu berhasil menyelesaikan kuliah tepat waktu dengan indeks prestasi kumulatif (IPK) 3,96 dan dinobatkan sebagai salah satu wisudawan terbaik tahun akademik 2025/2026.
Prestasi tersebut terasa istimewa bagi Irfando. Di balik keberhasilannya meraih gelar sarjana, ada perjuangan sang ibu, Endang, yang selama ini bekerja sebagai pembantu rumah tangga untuk memenuhi kebutuhan keluarga.
Momen membanggakan itu berlangsung dalam Wisuda ke-68 UNP Kediri di Insumo Kediri Convention Center (IKCC), Selasa (27/10/2026). Irfando menjadi salah satu dari delapan wisudawan terbaik yang ditetapkan melalui Surat Keputusan Rektor UNP Kediri Nomor 1349.01/UN PGRI-Kd/A/X/2026 tertanggal 5 Oktober 2026.
“Saya bersyukur bisa diwisuda pada kesempatan kali ini dan lulus tepat waktu. Semua ini berkat doa orang tua, terutama ibu saya, dukungan bapak dan ibu dosen, serta pihak kampus,” kata Irfando.
Ia secara khusus menyampaikan terima kasih atas bantuan pemerintah melalui program Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kuliah. Beasiswa tersebut menjadi salah satu faktor penting yang membantunya menyelesaikan pendidikan tinggi di tengah keterbatasan ekonomi keluarga.
Bagi Irfando, gelar wisudawan terbaik bukan sekadar pencapaian akademik. Ia ingin menjadikan keberhasilan tersebut sebagai awal untuk terus belajar dan memberikan manfaat bagi lingkungan sekitarnya.
“Ini semua saya persembahkan untuk ibu saya. Ini bukan hasil akhir, tetapi awal bagi saya untuk menjadikannya motivasi agar terus belajar dan bisa bermanfaat bagi lingkungan sekitar,” ujarnya.
Perjuangan Ibu di Balik Gelar Sarjana
Endang, ibu Irfando, tak mampu menyembunyikan kebahagiaannya melihat putra sulungnya berhasil menyelesaikan pendidikan tinggi. Di tengah perjuangan memenuhi kebutuhan sehari-hari, pencapaian sang anak menjadi kebanggaan tersendiri bagi dirinya.
“Senang sekali, sangat bersyukur punya anak yang membanggakan orang tua,” tutur Endang.
Perempuan berusia 53 tahun itu mengaku persoalan biaya menjadi salah satu tantangan terberat dalam mendampingi pendidikan anaknya. Dengan bekerja sebagai pembantu rumah tangga, ia harus mengatur penghasilan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari keluarga.
Bantuan KIP Kuliah sangat membantu meringankan beban biaya pendidikan Irfando. Dengan dukungan tersebut, Endang bisa tetap berjuang memenuhi kebutuhan hidup keluarga, sementara putranya berfokus menyelesaikan kuliah.
Di balik kesederhanaan itu, Endang terus memegang keyakinan bahwa pendidikan dapat membuka jalan bagi masa depan anak-anaknya. Ia berharap keberhasilan Irfando menjadi langkah awal menuju kehidupan yang lebih baik.
Perjuangan tersebut juga menjadi motivasi bagi Irfando untuk menyelesaikan kuliah tepat waktu. Ia menyadari bahwa pencapaiannya tidak lepas dari pengorbanan sang ibu yang selama ini bekerja keras demi keluarga.
Bersiap Melanjutkan Studi ke Surabaya
Setelah meraih gelar sarjana Akuntansi, Irfando tidak ingin berhenti sampai di situ. Ia mengaku telah memperoleh tawaran untuk melanjutkan studi di Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Almamater Wartawan Surabaya (Stikosa-AWS).
Ia berencana memulai pendidikan lanjutan pada 2 November 2026, hanya beberapa hari setelah prosesi wisuda.
Langkah tersebut menunjukkan keinginannya untuk terus mengembangkan kemampuan dan membuka peluang masa depan yang lebih luas.
Sementara itu, Wisuda ke-68 UNP Kediri digelar selama tiga hari, mulai 27 hingga 29 Oktober 2026, di IKCC Kediri. Sebanyak 1.867 wisudawan dan wisudawati dari program diploma, sarjana, dan magister mengikuti prosesi tersebut.
Ketua Pelaksana Wisuda ke-68 UNP Kediri, Dr. Sulistiono, M.Si., memimpin pelaksanaan kegiatan yang menjadi penanda keberhasilan para mahasiswa menuntaskan pendidikan tinggi.
Selain Irfando dari Program Studi Akuntansi dengan IPK 3,96, tujuh wisudawan lainnya juga masuk dalam daftar wisudawan terbaik. Mereka berasal dari berbagai program studi, mulai dari pendidikan, teknik, peternakan hingga program magister.
Kisah Irfando menjadi pengingat bahwa prestasi akademik tidak selalu lahir dari kemudahan hidup. Dukungan pendidikan, kesempatan memperoleh beasiswa, dan perjuangan keluarga dapat menjadi kekuatan bagi mahasiswa untuk menuntaskan pendidikan sekaligus merancang masa depan yang lebih baik.(Sum/Her)
