oleh

Pulung Agustanto Ungkap Stunting di Kediri Turun Jadi 8,4 Persen, 6.000 Anak Masih Perlu Perhatian

Kediri,WartaPanjalu.com — Upaya menekan angka stunting di Kabupaten Kediri masih membutuhkan kerja bersama. Meski prevalensi stunting disebut turun dari 24 persen pada 2021 menjadi 8,4 persen pada 2026, sekitar 6.000 anak masih membutuhkan perhatian agar tumbuh sehat dan berkembang optimal.

Hal tersebut disampaikan Anggota Komisi IX DPR RI, Pulung Agustanto, dalam kegiatan sosialisasi dan fasilitasi Program Bangga Kencana di Gedung Serbaguna Kecamatan Papar, Kabupaten Kediri, Selasa (27/10/2026).

Kegiatan yang diikuti ratusan warga tersebut menjadi ruang edukasi mengenai pentingnya pengasuhan keluarga, pemenuhan gizi anak, pencegahan stunting, serta keterlibatan orang tua dalam mendukung tumbuh kembang generasi penerus bangsa menuju Indonesia Emas 2045.

Hadir sebagai narasumber dalam kegiatan itu, perwakilan BKKBN Provinsi Jawa Timur Sukamto, S.E., M.Si., serta perwakilan OPD BKKBN Kabupaten Kediri, Riffa Hanida, S.SiT., M.Kes.

Pulung: Penurunan Stunting Harus Terus Dikawal
Suasana sosialisasi berlangsung hangat ketika Pulung membuka pemaparannya dengan guyonan khas yang mengundang tawa peserta.

“Apa bedanya Pil KB dan Pileg? Pil KB nek lali dadi, Pileg nek dadi lali,” ujar Pulung yang disambut gelak tawa warga.

Di balik suasana santai tersebut, Pulung menegaskan pentingnya kehadiran wakil rakyat di tengah masyarakat untuk menyampaikan edukasi sekaligus mengawal persoalan kesehatan keluarga.

Ia mengapresiasi tren penurunan angka stunting di Kabupaten Kediri. Namun, capaian tersebut tidak boleh membuat seluruh pihak lengah karena masih ada ribuan anak yang membutuhkan perhatian.

“Tugas kita belum selesai. Masih ada ribuan anak yang harus kita kawal pertumbuhannya hingga target bersama tercapai, yaitu angka stunting turun hingga 0 persen,” tegasnya.

Menurutnya, pencegahan stunting tidak cukup hanya mengandalkan program pemerintah. Peran keluarga, kesadaran masyarakat, serta sinergi lintas sektor diperlukan agar intervensi yang dilakukan benar-benar menyentuh kebutuhan ibu dan anak.

Peran Ayah dan Ibu Jadi Fondasi Keluarga Berkualitas
Sementara itu, Sukamto dari BKKBN Provinsi Jawa Timur menekankan pentingnya penerapan delapan fungsi keluarga dalam membentuk generasi yang sehat, mandiri, dan berdaya saing.

Delapan fungsi tersebut meliputi fungsi agama, sosial budaya, cinta kasih, perlindungan, reproduksi, sosialisasi dan pendidikan, ekonomi, serta pembinaan lingkungan.

Ia juga menyoroti fenomena fatherless, yakni kondisi ketika anak mengalami minimnya keterlibatan ayah secara emosional maupun psikologis dalam pengasuhan.

Selama ini, tanggung jawab mengasuh anak kerap lebih banyak dibebankan kepada ibu. Padahal, kehadiran ayah dalam keseharian anak juga berperan penting dalam membentuk karakter, kepercayaan diri, dan kestabilan emosi.

Karena itu, pengasuhan anak perlu menjadi tanggung jawab bersama. Ayah dan ibu diharapkan terlibat aktif, tidak hanya dalam pemenuhan kebutuhan materi, tetapi juga dalam memberikan perhatian, kasih sayang, dan pendampingan.

Manfaatkan Pangan Lokal untuk Cegah Stunting
Materi mengenai kesehatan ibu dan anak diperkuat oleh Riffa Hanida dari OPD BKKBN Kabupaten Kediri. Ia mengingatkan pentingnya pemantauan tumbuh kembang anak, terutama selama 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), yang menjadi periode krusial bagi perkembangan anak.

Riffa juga menjelaskan pentingnya mencegah kehamilan dengan risiko 4 Terlalu, yakni terlalu muda saat hamil, terlalu tua, terlalu banyak melahirkan, serta jarak kehamilan yang terlalu dekat.

Ia mengajak para ibu rutin membawa anak ke Posyandu untuk memantau pertumbuhan, memperoleh layanan kesehatan, serta mendeteksi lebih dini apabila terdapat gangguan tumbuh kembang.

Selain pemantauan kesehatan, pemenuhan gizi keluarga juga menjadi perhatian. Masyarakat didorong memanfaatkan bahan pangan lokal yang mudah diperoleh dan relatif terjangkau, seperti telur, tahu, tempe, dan ikan lele, sebagai bagian dari menu bergizi seimbang.

Upaya tersebut dapat diperkuat melalui berbagai program, di antaranya Dapur Sehat Atasi Stunting (DASHAT) dan Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (Genting).

Melalui edukasi keluarga, pemantauan kesehatan ibu dan anak, serta pemenuhan gizi yang memadai, upaya penurunan stunting di Kabupaten Kediri diharapkan semakin optimal.

Kolaborasi pemerintah, tenaga kesehatan, dan masyarakat menjadi kunci untuk memastikan setiap anak memperoleh kesempatan tumbuh sehat, cerdas, dan berkualitas demi menyongsong Indonesia Emas 2045.(*/Sum/Her)