Kediri,Wartapanjalu.com–Upaya memperkuat Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di wilayah Mataraman terus dilakukan Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Kediri. Bukan sekadar mendorong pelaku usaha agar bertahan, BI juga ingin UMKM naik kelas, memiliki daya saing, serta mampu menembus pasar nasional hingga global.
Hal tersebut disampaikan PLH Kepala Perwakilan Bank Indonesia Kediri melalui Asisten Direktur Deasi Surya Andarina, dalam keterangannya terkait penyelenggaraan Karya Kreatif Indonesia (KKI) 2026, Kamis (20/8/2026).
KKI 2026 menjadi salah satu wadah Bank Indonesia untuk memperkuat ekosistem UMKM melalui peningkatan kapasitas usaha, digitalisasi, akses pembiayaan, hingga perluasan pasar.
UMKM Mataraman Dibawa ke Panggung Nasional
KKI 2026 berlangsung pada 20–23 Agustus 2026 di Hall A dan B Jakarta International Convention Center (JICC), Jakarta. Gelaran tersebut mengusung tema “Penguatan Sinergi untuk Mendorong UMKM Bangkit, Tangguh, dan Berdaya Saing.”
Semangat tersebut sejalan dengan pembinaan yang dilakukan BI Kediri terhadap UMKM di wilayah kerjanya. Salah satunya melalui program Road to Karya Kreatif Indonesia (KKI) 2026 bertajuk Karya Kreatif Mataraman x Digital Mataraman Festival (KKM x DIGIMAFest).
Kegiatan yang digelar pada 26–28 Juni 2026 di Taman Hijau Simpang Lima Gumul,
Kabupaten Kediri, itu diikuti 71 UMKM yang merupakan produk unggulan dari 13 kabupaten/kota.
Hasilnya cukup menggembirakan. Nilai transaksi penjualan UMKM secara offline maupun online selama kegiatan tersebut mencapai lebih dari Rp500 juta.
“Penguatan UMKM ke depan diwujudkan melalui tiga kata kunci, yaitu bangkit, tangguh, dan berdaya saing,” ujar Deasi, mengutip pesan yang disampaikan Bank Indonesia dalam KKI 2026.
Menurutnya, UMKM yang bangkit tidak cukup hanya mampu melewati tekanan ekonomi. Pelaku usaha juga perlu memiliki struktur bisnis yang kuat, akses pembiayaan berkelanjutan, serta kemampuan melakukan inovasi dan memperluas pasar.
Dari Produk Lokal Menuju Pasar Global
Pembinaan BI Kediri dilakukan secara berkelanjutan. Pelaku UMKM tidak hanya didorong menghasilkan produk, tetapi juga meningkatkan kualitas dan nilai tambah, memperkuat pemasaran digital, memperoleh akses pembiayaan, hingga membuka peluang ekspor.
Sektor yang dikembangkan cukup beragam, mulai dari kopi, pangan olahan, perikanan, gula aren, wastra hingga kerajinan.
Salah satu contoh UMKM binaan yang menunjukkan potensi tersebut adalah Arbilest Coffee.
Sepanjang rangkaian Road to KKI, BI Kediri juga telah memfasilitasi business matching ekspor untuk komoditas gula aren, kopi, dan kerajinan dengan nilai mencapai Rp4,078 miliar.
Selain itu, business matching pembiayaan yang difasilitasi mencapai Rp7,69 miliar.
Capaian tersebut menjadi bagian dari upaya membangun ekosistem UMKM di 13 kabupaten/kota wilayah kerja BI Kediri agar semakin produktif dan memiliki daya saing.
11 UMKM Mataraman Ikut KKI 2026
Pada KKI 2026, sebanyak 11 UMKM dari wilayah kerja BI Kediri ikut ambil bagian secara online.
Mereka adalah Arbilest Kopi/Koperasi Gunung Buthag dari Blitar, Yoris dan Alsafood dari Pacitan, Mugo dan Adia Bag dari Kota Kediri, Alya Batik dari Trenggalek, Batik Murni dari Madiun, Swarnabhumi dari Nganjuk, Batik Satrio Manah dan Batik Gama dari Tulungagung, serta Awicho dari Ngawi.
Sementara partisipasi secara offline diikuti Swarnabhumi/CV Adikarya dan Batik Alya. Sedangkan Mugo/CV Nawasena serta Gula Aren Temon turut mengirimkan produk untuk showcase.
Produk yang ditampilkan pun beragam. Mulai kopi, makanan olahan, fesyen, batik, kerajinan hingga berbagai produk kreatif lainnya.
Kehadiran mereka tidak hanya menjadi ajang promosi. Lebih jauh, KKI membuka kesempatan bagi UMKM daerah untuk memperluas jejaring, bertemu calon mitra usaha, sekaligus melihat peluang pasar yang lebih besar.
Peluang Ekspor Dibuka Lebih Lebar
Kesempatan memperluas pasar juga terlihat dalam rangkaian Business Matching Ekspor KKI 2026.
Sejumlah UMKM mendapat kesempatan menjajaki kerja sama dengan calon mitra bisnis. Koperasi Kencana Mulya Sejahtera misalnya, membawa produk kopi sektor food and beverage.
Ada pula PT RV Eternal Indotrading dengan produk home decor dan tool equipment craft yang dipertemukan dengan sejumlah calon mitra.
Gula Aren Temon juga menjajaki kerja sama dengan PT Mahkota Surya Perkasa dan Superindo. Sementara CV Nawasena Pangan Kreatif atau Mugo membawa produk tepung premiks bebas gluten dalam business matching bersama TABS (Pty) Ltd dan Toko Indo Utama Ltd.
Bagi UMKM, peluang seperti ini menjadi penting. Sebab, tantangan terbesar setelah menghasilkan produk berkualitas adalah bagaimana produk tersebut menemukan pasar yang tepat.
Kolaborasi Jadi Kunci UMKM Naik Kelas
KKI 2026 sendiri melibatkan 27 kementerian dan lembaga serta 34 mitra strategis. Selama empat hari pelaksanaan, pameran luring di JICC diikuti lebih dari 550 UMKM, sementara pameran daring melibatkan lebih dari 1.300 UMKM.
Jumlah tersebut meningkat dibandingkan KKI 2025 yang diikuti 362 UMKM secara luring dan lebih dari 1.100 UMKM secara daring.
Rangkaian kegiatan KKI juga dikemas dengan berbagai agenda, mulai talkshow ekonomi dan keuangan, pagelaran karya kreatif, business matching pembiayaan dan ekspor, showcase UMKM, hingga promosi pariwisata.
Bagi BI Kediri, keterlibatan UMKM Mataraman dalam KKI bukan sekadar membawa nama daerah ke panggung nasional. Ada harapan yang lebih besar: produk lokal mampu berkembang menjadi produk bernilai tambah, memiliki pasar luas, dan pada akhirnya ikut menggerakkan ekonomi daerah.
Semangat itu dirangkum dalam tiga kata: bangkit, tangguh, dan berdaya saing.
UMKM Mataraman diharapkan tidak berhenti sebagai produk lokal, tetapi terus tumbuh menjadi bagian dari rantai ekonomi nasional dan mampu bersaing di pasar global.(Sum/Her)










Komentar