Workshop peningkatan kompetensi dan profesionalisme guru PAI menekankan pentingnya penguatan kemampuan membaca Al-Qur’an, ketepatan ibadah, pembentukan akhlak, serta peningkatan kualifikasi akademik untuk mewujudkan pembelajaran berkualitas.
Kediri,WartaPanjalu.com–Ratusan guru Pendidikan Agama Islam (PAI) tingkat Sekolah Dasar se-Kabupaten Kediri mengikuti Workshop Peningkatan Kompetensi dan Profesionalisme Guru PAI dalam Mewujudkan Pembelajaran yang Berkualitas.
Kegiatan digelar pada Kamis, 16 Oktober 2026, bertempat di Gedung Serbaguna Al Ikhlas Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Kediri. Workshop ini menjadi momentum penting untuk memperkuat peran guru PAI di tengah tantangan era digital.
Workshop tersebut menghadirkan sejumlah tokoh penting, di antaranya Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan dan Kerjasama FTIK UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung Dr. Muhamad Zaini, M.A., Kepala Kemenag Kabupaten Kediri Achmad Fa’iz, S.Ag., M.H.I., Guru Besar UIN Syekh Wasil Kediri Prof. Dr. H. Ahmad Subakir, M.Ag., dan Anggota Komisi VIII DPR RI dari Fraksi PKB Dapil Jatim VI, KH. An’im Falachuddin Mahrus, M.Pd.
1.106 Guru PAI, 201 Belum PPG
Dalam sambutannya, Kepala Kemenag Kabupaten Kediri, Achmad Fa’iz, membeberkan data terkini guru PAI di Kabupaten Kediri. Dari total 2.590 lembaga sekolah yang ada, jumlah guru PAI hanya 1.106 orang.
Dari jumlah tersebut, 905 guru sudah menyelesaikan Pendidikan Profesi Guru (PPG) dan tersertifikasi. Artinya, masih ada pekerjaan rumah (PR) sebanyak 201 guru yang belum PPG.
“Di Kediri ini masih ada sekitar 200 sekian guru yang belum PPG. Ini menjadi PR kita bersama,” ujar Achmad Fa’iz di hadapan ratusan peserta.
Ia menjelaskan, Pemkab Kediri telah memberikan dukungan luar biasa. Pada tahun 2026 ini, Pemerintah Kabupaten Kediri menganggarkan kuota PPG untuk 48 orang guru PAI. Sementara sisanya masih menunggu kuota dari pemerintah pusat.
“Kami setiap bulan mencairkan TPG itu sekitar 2 miliar lebih. Artinya negara hadir. Guru PNS itu orang tuanya dua, gajinya lewat Dinas Pendidikan, TPG-nya lewat Kementerian Agama. Kami siap terus mengawal sertifikasi,” jelasnya.
Ia juga berpesan agar guru PAI tetap istiqomah dengan profesinya yang mulia, di tengah godaan perkembangan teknologi dan profesi lain yang menjanjikan.
“Tugas guru PAI itu sangat berat, tapi sangat mulia. Jangan goyah. Kemuliaan sebagai guru PAI harus kita istiqomahkan,” tegasnya.
Singgung Program RPL dan Amplop Workshop
Suasana workshop berlangsung cair dan penuh canda. Sambutan pertama disampaikan Dr. Muhamad Zaini yang diselingi pantun berbahasa Jawa hingga mengundang tawa peserta.
Ia juga mempromosikan program Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL) di UIN SATU Tulungagung sebagai jalan pintas peningkatan kualifikasi akademik.
“Di UIN SATU sekarang ada program RPL. Kuliah online, tidak harus ke kampus karena pagi mesti ngajar. Maksimal 2 tahun, tergantung masa kerja. Kalau masa kerjanya lama, diakui lebih banyak,” kata Zaini.
Menurutnya, program RPL sangat relevan untuk meningkatkan profesionalisme guru PAI, termasuk membuka peluang menjadi kepala madrasah atau kepala sekolah jika sudah berijazah S2.
Guru PAI Diminta Berani Kreasikan Kurikulum
Narasumber utama, Prof. Dr. H. Ahmad Subakir, M.Ag., memberikan materi yang cukup menohok. Ia mengajak guru PAI untuk berani melakukan kreasi terhadap kurikulum demi tujuan fundamental pendidikan agama.
Menurutnya, indikator keislaman yang paling dasar adalah kemampuan membaca Al-Qur’an, menulis Al-Qur’an, dan ibadah mahdhah yang baik. Hal itu harus tuntas diajarkan guru PAI sejak SD hingga SMP.
“Saya ingin guru PAI merumuskan selama 6 tahun, mosok tidak bisa. Di Pare itu ada Kampung Inggris, 3 bulan bahasa Inggrisnya bagus. Kita dikasih waktu 6 tahun di SD, harusnya anak lulus SD fasih baca Al-Qur’an,” tegas Subakir.
Ia menilai, saat ini kompetisi Indonesia bukan lagi antar daerah, tetapi sudah antar negara seperti Malaysia dan Bahrain. Citra Indonesia sebagai negara muslim terbesar akan dilihat dari kualitas murid-murid hasil didikan guru PAI.
Anggota DPR RI: Guru Bukan Sekadar Transfer Ilmu
Sementara itu, KH. An’im Falachuddin Mahrus yang akrab disapa Gus An’im menekankan pentingnya keteladanan guru di era digital.
Menurutnya, guru tidak hanya mentransfer pengetahuan, karena Google bisa lebih cerdas dari manusia. Tugas utama guru adalah mentransfer adab, ketakwaan, akhlak, dan melatih keikhlasan.
Ia mencontohkan dedikasi guru-guru era 70-80an yang tulus memberi jam tambahan gratis tanpa meminta bayaran.
“Guru PAI ini profesinya luar biasa mulia. Tidak hanya mendapatkan bayaran di dunia, tapi juga pahala jariyah yang terus mengalir,” ujar Pengasuh Ponpes Lirboyo tersebut.
Ia juga menyinggung kebijakan daerah di Blitar dan Bojonegoro yang mensyaratkan kemampuan baca tulis Al-Qur’an sebagai syarat kelulusan SD, yang menurutnya bisa menjadi inspirasi bagi Kabupaten Kediri.
Workshop yang dihadiri pengurus KKG PAI dari 26 kecamatan se-Kabupaten Kediri itu ditutup dengan harapan agar ilmu yang didapat bisa ditularkan kepada sesama guru dan anak didik, demi mewujudkan generasi emas Indonesia yang berkarakter dan beradab.(Sum/Her)
