Jahe Ketan: Oleh-oleh perjalanan
“Bandung Lautan Aci untuk Kota yang Serba Tahu”
Kota Bandung selalu punya cerita.
Dulu kita mengenal Bandung Lautan Api. Kisah heroic tentang keberanian dan perjuangan. Tetapi dalam perjalanan kali ini, saya menemukan Bandung yang lain : Bandung Lautan Aci.. hahaha
Cilok, Cimol, Cireng, Cibay, Cilung, Cilor, Seblak, Bakso Aci dan entah berapa banyak lagi keluarga besar per-aci-an yang belum sempat saya kenali. Satu bahan sederhana, tepung tapioca, bisa menjelma menjadi begitu banyak makanan. Beda bentuk, beda rasa, beda bentuk penyajian, bahkan setiap bentuk olahannya mempunyai penggemar tersendiri.
Hebat juga orang Bandung. Aci saja bisa mempunyai begitu banyak masa depan.
Tetapi yang menarik bukan hanya sekedar makanannya. Ada kreativitas, keberanian mencoba, kemampuan membaca selera dan kecerdikan memberi nilai tambah pada bahan yang sebenarnya sederhana.
Saya sempat membayangkan, Jangan-jangan kalau orang bandung menemukan cara baru menggoreng Aci, besok paginya sudah lahir satu nama jajanan baru.
Menariknya, Bandung tidak perlu repot repot mendeklarasikan diri sebagai Kota Aci. Warganya sudah lebih dulu sibuk membuat Aci menjadi sesuatu yang dicari. Saya jadi teringat kota yang saya tinggali saat ini, Kota Kediri.
Kota yang sudah puluhan tahun menyandang julukan Kota Tahu. Bukan sembarang Tahu. Kita punya Tahu takwa. Kotak kuning keemasan, padat kenyal, gurih dan selalu punya tempat istimewa di antara bawaan orang yang pulang dan singgah dari Kota Kediri.
Tahu kediri mempunyai sejarah Panjang. Dari ketrampilan para perantau Tionghoa yang mulai tumbuh pada awal abad ke-20, kemudian bertemu ketekunan masyarakat setempat hingga menjadi usaha turun temurun.
Dari Kawasan pecinan sampai Lorong-lorong Kampung Tahu Tinalan, ada cerita tentang perjumpaan budaya, kerja keras, dan dapur-dapur kecil yang menghidupi keluarga.
Dibalik sepotong Tahu, ada kedelai yang direndam, digiling, direbus, disaring, dipadatkan lalu diolah dengan kesabaran. Ada tangan-tangan pekerja yang memulai bekerja Ketika Sebagian besar warga kota sedang terlelap.
Tahu bukan sekedar makanan. Ia adalah bagian dari ingatan kolektif kota kediri. Sesampai disini saya jadi terusik. Kalau bandung bisa membuat Aci menjadi begitu banyak cerita mengapa Kota Tahu tidak kita dorong menjadi Kota Serba Tahu?
Sebentar, jangan salah paham. Serba Tahu bukan berarti Sok tahu… hahaha.
Memang kediri sudah punya tahu Takwa, Tahu Pong, Stik Tahu, Tahu Walik, Bahkan aneka inovasi Tahu lainnya. Para perajin Tahu bukan orang-orang yang kekurangan akal. Justru pertanyaannya : Sudah sejauhmana kreativitas mereka kita besarkan menjadi kekuatan ekonomi Kota?
Mengapa tidak kita bayangkan Kota Kediri sebagai kota tempat orang datang bukan hanya untuk membeli Tahu tetapi juga untuk mengalami “experience” Tahu.
Bayangkan sebuah akhir pekan di kampung Tahu : Anak-anak sekolah belajar bagaimana kedelai berubah menjadi Tahu. Mahasiswa membantu mendisain kemasannya. Anak-anak Remaja dan Pemuda beradu kreativitas Menyusun menu baru berhias Tahu. Para koki bereksperimen menghadirkan Tahu di meja makan modern.
Wisatawan menikmati Tahu hangat sambil mendengarkan cerita para perajin nya. Lalu produk-produknya pulang Bersama wisatawan membawa nama kota kediri ke kota-kota lain.
Tentu Sebagian sudah mulai dan terus dikerjakan oleh kota ini. Kampung Tahu Tinalan bahkan sudah menjadi Kawasan wisata edukasi. Tapi bukankah sebuah kota harus terus bertanya : Apa Langkah berikutnya?
Kota Tahu tidak cukup hanya punya banyak penjual Tahu. Kota Tahu harus menjadi kota yang paling tahu bagaimana membesarkan kehidupan dari Tahu.
Nah, disinilah urusan kuliner diam-diam berubah menjadi urusan kebijakan.
Saya sempat kunjungi kampung Tahu tinalan saat bulan Ramadhan kemarin. Terasa benar suasana kampung ini dalam keadaan “kekinian”. Pemerintah boleh bangga dengan festival, gapura, papan nama atau seremoni peresmian kampung wisata tersebut.
Tetapi perajin pada saatnya butuh hal-hal yang tidak terlalu fotogenik. Harga kedelai yang masuk akal, peralatan yang lebih efisien, pengolahan limbah yang baik, kemasan yang membuat produk lebih awet dan menarik, akses pasar yang meluas, juga kepastian anak-anak mereka masih melihat masa depan yang menjadikan dalam usaha keluarganya.
Ada kekuatiran, kita terlalu sibuk mempercantik tulisan “KAMPUNG TAHU” tetapi kurang memperhatikan apa yang sedang terjadi di dapur para pembuat Tahu, Hahaha, … maaf ini sekedar pikiran orang yang kebanyakan makan aci saat di bandung.
Namun, disitulah menariknya belajar dari hal-hal kecil. Pengambil kebijakan tidak harus selalu mencari inspirasi ke kota kota besar dunia, membaca konsep pembangunan yang rumit atau mengadakan seminar dengan judul yang berat dan Panjang. Sesekali perlu duduk di tungku perajin tahu, meski tidak sering-sering .. hehehe.
Akhirnya perjalanan singkat menikmati Bandung Lautan Aci ini membawa pada kesimpulan Kecil. Identitas kota semestinya tidak berhenti hanya sebagai julukan. Ia harus menjadi kesempatan, berubah menjadi pekerjaan, menjadi penghasilan dan menjadi kebanggaan yang terus diperbaharui.
Bandung telah mengajarkan bagaimana Aci yang biasa bisa menjadi luar biasa. Kediri pun punya kesempatan yang sama. Bahkan modal identitas nya sudah tersedia. Tinggal bagaimana kita merawat, mengolah dan mengembangkannya.
Dari Kota Tahu menjadi kota Serba Tahu.
Bukan kota yang merasa sudah tahu segalanya, tetapi kota yang selalu ingin semakin tahu, semakin kreatif dan semakin mensejahterakan warganya. Lha Kota Tahu saja tidak tahu cara membesarkan potensi tahunya sendiri, lalu siapa yang harus tahu?
Tahuuu Ajaaa..
Penulis adalah Imam Wihdan Zarkasyi, S.T., M.M.
Catatan:
T besar pada tahu mewakili Tahu sebagai Nama/kata benda
T kecil pada tahu dan turunan katanya mewakili tahu sebagai kata kerja
