oleh

Santri Kediri Disiapkan Jadi Garda Tanggap Bencana, BPBD Bekali 110 Relawan dan Santri

Kediri,WartaPanjalu.com — Ancaman bencana di Kabupaten Kediri tak cukup dihadapi dengan kesiapan pemerintah. Keterlibatan masyarakat, termasuk kalangan santri, menjadi kunci untuk mempercepat penanganan dan meminimalkan risiko saat bencana terjadi.

Menyadari hal itu, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kediri membekali 110 relawan dan santri melalui Sosialisasi Relawan & Santri Peduli Bencana di Gedung BPKAD Tegowangi lantai III, Senin (19/10/2026).

Kegiatan bertema Peningkatan Kapasitas Bidang Logistik dan Peralatan Penanggulangan Bencana tersebut diikuti lebih dari 80 santri dan sekitar 30 relawan kebencanaan. Mereka disiapkan untuk memperkuat kesiapsiagaan di lingkungan masyarakat, khususnya pondok pesantren.

Kolaborasi relawan berpengalaman dengan santri diharapkan mampu memperluas jangkauan edukasi kebencanaan sekaligus membangun budaya tanggap bencana hingga tingkat komunitas.

Kediri Dikepung Ancaman, Kesiapsiagaan Tak Bisa Ditunda

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Kediri, Ariyanto, mengingatkan bahwa kondisi geografis Kediri menyimpan beragam potensi bencana. Keberadaan Gunung Kelud di sisi timur, Gunung Wilis di barat, serta Sungai Brantas dan anak-anak sungainya membuat wilayah ini menghadapi ancaman erupsi, tanah longsor, hingga banjir.

Terlebih, kegiatan tersebut berlangsung menjelang masa peralihan musim yang membutuhkan kewaspadaan terhadap potensi bencana hidrometeorologi.

“Bencana memang tidak dapat kita cegah kejadiannya, tetapi dampaknya dapat kita kurangi dengan pengetahuan, kesiapsiagaan, dan kerja sama. Pengetahuan yang baik dapat menyelamatkan nyawa dan mengurangi kerugian,” ujar Ariyanto.

Menurutnya, kesiapsiagaan harus dibangun sebelum bencana datang. BPBD mendorong pembentukan desa siaga bencana serta pos tanggap bencana di lingkungan pondok pesantren.

Santri juga didorong untuk memahami langkah-langkah dasar penyelamatan, mulai dari menyusun rencana evakuasi, menentukan titik kumpul yang aman, menyiapkan perlengkapan darurat, hingga rutin mengikuti simulasi bencana.

Dengan bekal tersebut, santri diharapkan tidak hanya mampu melindungi diri dan lingkungan pesantren, tetapi juga membantu masyarakat ketika situasi darurat terjadi.

Santri Tak Hanya Berdoa, tetapi Ikut Menyelamatkan

Keterlibatan santri dalam upaya penanggulangan bencana mendapat dukungan dari anggota Komisi VIII DPR RI Fraksi PKB sekaligus Pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo Kediri, KH An’im Falachuddin Mahrus, M.Pd.

Gus An’im menilai, kesiapsiagaan bencana perlu menjadi bagian dari keterampilan santri. Pengetahuan mengenai tindakan awal saat gempa, evakuasi, hingga penanganan korban menjadi bekal penting dalam menghadapi kondisi darurat.

“Bencana datangnya tidak bisa kita duga. Maka kesiapsiagaan harus menjadi keterampilan santri, mulai dari tindakan awal saat terjadi gempa bumi hingga teknik evakuasi korban. Selain doa yang menjadi kekuatan utama, kepedulian fisik dalam penanggulangan bencana adalah wujud nyata ajaran agama,” kata Gus An’im.

Menurutnya, nilai kepedulian dan semangat menolong sesama yang diajarkan di pesantren dapat menjadi kekuatan dalam membangun masyarakat yang tangguh menghadapi bencana.

BNPB Dorong Pesan Sadar Bencana Masuk dalam Dakwah

Direktur Pengelolaan Logistik dan Peralatan BNPB, Bambang Surya Putra, menegaskan bahwa sosialisasi perlu ditindaklanjuti dengan pembekalan teknis dan pembentukan kader Pondok Pesantren Aman Bencana.

Ia menyoroti kompleksitas ancaman di Kediri, termasuk potensi banjir lahar akibat erupsi gunung api yang disertai curah hujan tinggi.

“Kediri memiliki kompleksitas ancaman bencana yang tinggi, seperti potensi lahar panas akibat erupsi yang berbarengan dengan curah hujan tinggi. Karena itu, kita perlu menyiapkan kader yang mampu menyelipkan pesan-pesan sadar bencana dalam setiap dakwahnya kepada masyarakat. Ketika sadar bencana sudah menjadi budaya, masyarakat akan jauh lebih siap dan tangguh,” jelas Bambang.

Melalui kader santri, edukasi kebencanaan diharapkan tidak berhenti di ruang sosialisasi. Pesan tentang mengenali ancaman, memahami jalur evakuasi, dan bertindak tepat saat bencana dapat diteruskan melalui kegiatan keagamaan maupun kehidupan sehari-hari di lingkungan pesantren.

Sinergi BPBD, BNPB, relawan, dan pondok pesantren ini menjadi langkah memperkuat kesiapsiagaan berbasis komunitas. Harapannya, saat bencana datang, masyarakat Kediri tak hanya mengandalkan bantuan setelah kejadian, tetapi sudah memiliki pengetahuan dan kemampuan untuk mengurangi risiko sejak awal.(Sum/Her)