Pulung Agustanto tekankan stunting bukan sekadar soal gizi, tapi sanitasi, Posyandu, dan kolaborasi keluarga. BKKBN Jatim ingatkan pembangunan keluarga harus mengawal manusia dari balita hingga lansia.
Kediri,WartaPanjalu.com – Upaya mencetak sumber daya manusia unggul menuju Indonesia Emas 2045 kini digencarkan sampai ke tingkat desa. Salah satunya lewat sosialisasi pembangunan keluarga dan edukasi kependudukan yang digelar Komisi IX DPR RI bersama Perwakilan Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga / BKKBN di Balai Desa Padangan, Kecamatan Kayen Kidul, Kabupaten Kediri, Kamis (29/10/2026).
Ratusan warga hadir. Bukan sekadar mendengarkan ceramah, mereka diajak memahami bahwa stunting tidak bisa diselesaikan hanya dengan memberi makan anak.
Anggota Komisi IX DPR RI, Pulung Agustanto, menegaskan, penanganan stunting harus dilakukan lintas sektor dan terintegrasi. Gizi penting, tapi tanpa lingkungan bersih dan pemantauan tumbuh kembang yang rutin, hasilnya tidak akan maksimal.
“Pemerintah telah menyiapkan sejumlah program konkret seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) 3B yang ditujukan bagi ibu hamil, ibu menyusui, dan balita, program Dapur Sehat Atasi Stunting (DASHAT), hingga Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (GENTING),” ujar Pulung di hadapan peserta sosialisasi.
MBG 3B menyasar fase paling krusial, yakni 1.000 hari pertama kehidupan. DASHAT hadir sebagai dapur bersama untuk memastikan keluarga miskin dan rawan stunting mendapat asupan bergizi. Sementara GENTING mengajak masyarakat menjadi orang tua asuh bagi anak-anak yang berisiko stunting.
Diare Bisa Bikin Anak Kehilangan Gizi
Pulung juga mengingatkan satu hal yang kerap luput dari perhatian orang tua: kebersihan lingkungan dan sanitasi dasar.
Menurutnya, anak yang sering diare atau infeksi saluran pencernaan akan kehilangan gizi penting, meski sudah diberi makan bergizi. Gizi yang masuk terbuang percuma karena tubuh sibuk melawan infeksi.
Karena itu, ia meminta orang tua tidak malas membawa balita ke Posyandu. Di sana, berat badan, tinggi badan, hingga perkembangan anak dipantau secara berkala. Jika ada yang tidak sesuai, bisa segera ditangani.
“Generasi sehat hari ini adalah tulang punggung bangsa esok hari. Pemerintah peduli, maka orang tua wajib lebih peduli. Kolaborasi antara pemerintah, tenaga kesehatan, dan keluarga harus semakin solid,” tegasnya.
Pembangunan Keluarga Harus Seumur Hidup
Pada kesempatan yang sama, Perwakilan BKKBN Provinsi Jawa Timur, Dr. Sofyan Rizalanda, M.Kes., menekankan pembangunan keluarga tidak boleh berhenti pada satu kelompok usia.
Kemendukbangga/BKKBN, kata Sofyan, menempatkan pembangunan keluarga sebagai proses yang mengikuti seluruh siklus kehidupan manusia. Mulai dari balita, remaja, dewasa, hingga lansia, semuanya butuh pembinaan yang berkelanjutan.
“Kemendukbangga/BKKBN menempatkan pembangunan keluarga sebagai bagian integral yang mengikuti seluruh siklus pertumbuhan dan perkembangan manusia. Pembinaan tidak boleh terputus pada satu kelompok usia saja, melainkan membutuhkan perhatian dari fase balita, remaja, hingga lansia,” terang Sofyan.
Ia menambahkan, kunci keberhasilan program ini ada pada kemitraan. Tanpa keterlibatan aktif mitra kerja, pemerintah daerah, tenaga kesehatan, hingga keluarga, program pembangunan keluarga tidak akan berdampak jangka panjang.
Kenali Penduduk, Rencanakan Masa Depan
Sesi edukasi kependudukan dibawakan perwakilan Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP2KBP3A) Kabupaten Kediri, Istiana, SKM., M.Epid., dengan materi bertajuk “Yuk Kenali Penduduk dan Masa Depan Kita”.
Istiana menjelaskan, dinamika kependudukan dipengaruhi tiga faktor utama: kelahiran, kematian, dan migrasi. Tiga faktor inilah yang menjadi basis data vital bagi pemerintah daerah dalam merencanakan pembangunan.
“Data kependudukan yang presisi menentukan kebijakan penyediaan sarana pendidikan, fasilitas kesehatan, hingga infrastruktur publik. Pengelolaan kependudukan yang terencana juga menjadi kunci dalam mengantisipasi tantangan sosial seperti kemiskinan, pengangguran, serta dampaknya terhadap lingkungan,” ungkap Istiana.
Ia juga menyoroti bonus demografi yang sedang dihadapi Indonesia. Jumlah penduduk usia produktif yang besar adalah peluang, bukan sekadar angka statistik. Tapi peluang itu hanya akan jadi keuntungan jika masyarakat ikut menjadi pelaku pembangunan, bukan sekadar penonton.
“Masyarakat perlu mengambil peran melalui perencanaan keluarga yang matang, partisipasi aktif dalam pendataan penduduk, serta peningkatan kompetensi diri agar memiliki daya saing tinggi,” pungkasnya.
Sosialisasi di Desa Padangan ini menjadi bukti bahwa perang melawan stunting dan pembangunan keluarga berkualitas tidak hanya dimulai dari Jakarta, tetapi dari balai desa, dari Posyandu, dan dari keluarga.(Sum/Her)
