oleh

Dari Konten HP ke Layar Lebar! Woko Channel Kediri Tembus Perfilman Nasional Lewat Piye To Ki?

Digandeng Sutradara Ito Mavin, Kreator Lokal Beradu Akting dengan Sejumlah Aktor Nasional. Film Ini Angkat 80 Persen Dialog Bahasa Jawa.

Kediri,WartaPanjalu.com – Berawal dari membuat video sederhana bermodalkan telepon seluler, Woko Channel kini melangkah lebih jauh. Kreator konten asal Kediri itu akhirnya menembus layar lebar lewat film Piye To Ki?, sebuah karya yang membuka jalan bagi talenta lokal untuk bersaing di industri perfilman nasional.

Film garapan sutradara Ito Mavin tersebut menggelar pemutaran perdana di Ramayana Mall XXI Kediri, Jumat (6/11/2026). Kehadirannya sekaligus menjadi pembuktian bahwa kreator daerah memiliki peluang besar untuk tampil di panggung yang lebih luas.

Ito mengaku sudah lama mengikuti perjalanan Woko Channel. Bahkan, sejak kelompok tersebut masih membuat konten dengan peralatan sederhana, ia telah menyimpan keinginan untuk mengajak mereka bermain film.

“Saya dulu pengikutnya Woko Channel ketika masih syuting pakai handphone. Kemudian saya berpikir bahwa suatu hari saya harus ajak mereka untuk main film,” ungkap Ito dalam konferensi pers.

Menurutnya, banyak kreator daerah memiliki kemampuan dan kreativitas yang tidak kalah dari pelaku industri hiburan di kota besar. Persoalannya, mereka kerap belum mendapatkan kesempatan untuk menunjukkan potensi tersebut.

“Pelan tidak apa-apa, yang penting tidak berhenti. Saya melihat potensi daerah itu sangat besar. Mungkin yang belum dimiliki atau didapat adalah kesempatannya,” ujarnya.

Lewat Piye To Ki?, Ito mencoba menjembatani potensi tersebut. Para pemain Woko Channel mendapat kesempatan berkolaborasi dengan aktor nasional, di antaranya Dara Sarasvati, Gabriel Desta, Lorenzo Gibbs, Devina Aurel, dan Fatih Marwoto. Sementara Lek Dahlang dipercaya menggarap soundtrack film.

Peralihan dari produksi konten digital ke film layar lebar tentu bukan perkara mudah. Para pemain harus beradaptasi dengan sistem produksi yang lebih besar, melibatkan banyak kru, serta menuntut kemampuan akting yang lebih matang.

Untuk membangun kekompakan, para pemain menjalani kegiatan bersama sebelum produksi. Mereka juga mendapat pembekalan coaching akting selama hampir satu bulan.

Dari sisi cerita, film ini mengusung genre drama komedi supernatural. Namun, penonton tidak disuguhi horor yang mengandalkan jump scare. Sebaliknya, cerita dibangun dengan sentuhan komedi dan pesan moral tentang perjuangan, kejujuran, tanggung jawab, serta pentingnya memantaskan diri.

“Orang sering berusaha menjadi orang lain untuk mendapatkan apa yang dia mau. Padahal, ketika menginginkan sesuatu, hal pertama yang harus dilakukan adalah membuat diri kita pantas untuk mendapatkan itu,” jelas Ito.

Kentalnya identitas lokal juga menjadi kekuatan film ini. Sekitar 80 persen dialog menggunakan bahasa Jawa. Meski begitu, para pembuat film tidak ingin cerita tersebut hanya dinikmati masyarakat Jawa, tetapi juga bisa menjangkau penonton nasional hingga mancanegara.

Pemilihan Kediri sebagai lokasi home premiere pun bukan sekadar formalitas. Kota ini menjadi tempat para pemain Woko Channel mengawali perjalanan kreatifnya. Pemutaran perdana tersebut sekaligus menjadi momentum untuk pulang, memperkenalkan karya mereka kepada masyarakat sendiri, dan menggalang dukungan sebelum melangkah ke panggung nasional.

Setelah dari Kediri, Piye To Ki? dijadwalkan menggelar gala premiere di Jakarta pada 12 November 2026.(Sum/Her)