Masyarakat, pemuda, dan tokoh lintas agama berkumpul di tempat masa kecil Bung Karno untuk memanjatkan doa khusus bagi para pejabat negara agar tetap setia pada amanah rakyat.
Kediri,WartaPanjalu.com — Malam peringatan Hari Sumpah Pemuda dan Lahirnya Lagu Kebangsaan Indonesia Raya ke-98 di Situs Persada Soekarno Ndalem Pojok, Desa Pojok, Kecamatan Wates, Kabupaten Kediri, Selasa malam (27/10/2026), berlangsung penuh khidmat. Berbeda dari seremonial biasa, acara ini hadir sebagai gerakan moral yang memadukan kebersamaan pemuda, tokoh lintas agama, dan masyarakat setempat di bumi tempat masa kecil Sang Proklamator ditempa.
Puncak acara ditandai dengan pengiriman doa tulus secara khusus bagi para pejabat dan penyelenggara pemerintahan. Gerakan ini menjadi simbol harapan agar para pemimpin senantiasa istiqomah dan memegang teguh amanah rakyat di tengah dinamika bangsa.
Inisiatif moral dari bumi Ndalem Pojok ini mendapat sambutan hangat dari pemerintah daerah. Perwakilan Kesbangpol Kabupaten Kediri, Wawan Sugiraharjo, S.AP., M.M., menilai kegiatan ini sebagai bukti nyata akulturasi nilai luhur bangsa sekaligus manifestasi jiwa Pancasila.
”Sebagai bangsa yang berjiwa Pancasila, di mana Sila Pertama menjiwai sila-sila lainnya, kita adalah bangsa yang Berketuhanan Yang Maha Esa. Ciri orang yang berketuhanan, ketika melihat sesuatu yang baik, maka langkah beradab yang dilakukan adalah berdoa,” ujar Wawan.
Ia menggarisbawahi tiga pesan utama dari perhelatan tersebut: pentingnya membudayakan doa, keselarasan dengan tema Sumpah Pemuda Kementerian Pendidikan, serta makna acara sebagai kolaborasi nyata demi kebaikan bangsa.

Benang Merah Tiga Sumpah Keramat dan Simbolisme Biola
Ketua Departemen Pendidikan DPP Persaudaraan Cinta Tanah Air Indonesia (PCTA Indonesia) sekaligus inisiator acara, R.M. Kushartono, S.M., menjelaskan bahwa hajatan ini dilandasi oleh pandangan tasawuf kebangsaan. Menurutnya, perjalanan sejarah Indonesia diikat oleh benang merah Tiga Sumpah Keramat Nusantara.
”Sejarah kebangsaan kita ditopang oleh tiga sumpah sakral: Sumpah Palapa yang menyatukan Nusantara, Sumpah Pemuda 1928 yang melahirkan kemerdekaan, dan kini estafetnya ada pada Sumpah Jabatan para penyelenggara negara. Ikrar suci di hadapan Kitab Suci memiliki dimensi sakral dan kekuatan ilahiyah,” tegas Kushartono.
Keunikan lain terpancar dari panggung lesehan setinggi 30 cm di dalam sanggar. Di atasnya dipajang sebuah biola sebagai simbol “Rasa” dan pengingat lahirnya lagu Indonesia Raya pada 28 Oktober 1928 lewat alunan biola WR Soepratman.
Biola tersebut menjadi filosofi bahwa kepemimpinan, seperti halnya instrumen musik, harus dimainkan dengan ketulusan jiwa dan nurani agar menghasilkan keadilan bagi rakyat.
Suara Generasi Muda dan Senandung Kepedulian
Makna mendalam dari acara ini turut dirasakan oleh generasi muda yang hadir. Azizah Gitaning Ratri, siswa Sekolah Alam Saka, mengungkapkan pentingnya ruang refleksi seperti ini di tengah berbagai tantangan bangsa saat ini.
”Menyandingkan Sumpah Pemuda dan Sumpah Jabatan memberikan ruang refleksi yang mendalam bagi kita semua. Harapan saya ke depan, generasi muda bisa lebih peka dan peduli terhadap pemerintah serta memiliki pemikiran yang lebih terbuka tentang politik,” tutur Gita.
Suasana haru dan hangat kian terasa saat lantunan lagu nasional Dari Sabang Sampai Merauke dan Bangun Pemuda Pemudi bergema, diselingi penyaluran tali asih kepada 12 anak yatim serta fakir miskin.
Melalui ikhtiar batin dan Doa Pengantar Kebangsaan dari bumi Ndalem Pojok Kediri ini, masyarakat berharap para pemimpin bangsa senantiasa dianugerahi kekuatan lahir dan batin untuk membawa Indonesia menuju kemakmuran dan keadilan yang diridhoi Tuhan Yang Maha Esa.(Sum/Her)











Komentar