oleh

Nasib ABK Pantai Prigi: Pendapatan Terancam Dipangkas 40% Akibat Lonjakan Harga Solar Industri

Trenggalek,Wartapanjalu.com– Jeritan ekonomi mulai terdengar dari bibir para Anak Buah Kapal (ABK) di Pantai Prigi, Trenggalek. Akibat kenaikan harga BBM Solar Non-Subsidi yang melambung tinggi, pendapatan para pekerja laut ini terancam dipangkas hingga 40 persen. Jika biasanya sekali melaut mereka mampu membawa pulang Rp 1 juta, kini realita pahit memaksa mereka kemungkinan besar hanya akan menerima sekitar Rp 600 ribu saja.

Kondisi ini menjadi imbas langsung dari naiknya harga Solar Industri yang kini menyentuh angka Rp 30.550 per liter, dari harga sebelumnya yang berada di level Rp 28.150 per liter.

Biaya Operasional Membengkak, Nelayan Kapal Besar ‘Gigit Jari’

Salah satu pemilik kapal besar (di atas 30 GT), Dayak (52), mengungkapkan beratnya beban yang harus dipikul saat ini. Dalam satu siklus melaut selama 10 hari, kapal miliknya rata-rata membutuhkan 1.500 liter solar.

Dengan kalkulasi harga terbaru, Dayak harus merogoh kocek hingga Rp 45,825 juta hanya untuk keperluan bahan bakar sekali jalan.

“Kalau hari ini harga ikan masih agak bagus sedikit. Tidak tahu nanti besok-besoknya kalau harga ikan anjlok, ya sudah tidak bisa melaut,” ujar pria asal Pati yang kini berdomisili di Watulimo tersebut.

Strategi Bertahan di Tengah Kenaikan Harga

Meski dihantam kenaikan harga, aktivitas di pelabuhan terpantau masih berjalan normal berkat stok cadangan. Dayak mengaku telah membeli solar dalam kapasitas besar sebelum harga resmi dinaikkan.

Stok Awal: 8.000 Liter

Sisa Cadangan: 5.000 Liter (Cukup untuk beberapa kali keberangkatan)

Kebutuhan per Trip: 1.000 hingga 1.500 Liter

“Harapannya solar industri ini bisa diturunkan. Kalau tidak, salah satu cara bertahan adalah memaksimalkan harga jual ikan agar bisa menutup operasional yang membengkak,” tambahnya.

Penjelasan Syahbandar PPN Prigi

Menanggapi situasi ini, Katimja Kesyahbandaran PPN Prigi, Tri Aspriadi Noviyanto, menyebutkan bahwa dampak secara masif memang belum terlihat di seluruh lini pelabuhan. Hal ini dikarenakan mayoritas kapal di Prigi masih menggunakan BBM subsidi.

“Di PPN Prigi baru ada tiga kapal yang menggunakan BBM non-subsidi. Saat ini ketiganya memang belum beroperasi, ada yang sedang doking di Cilacap dan ada yang masih bersandar di sini,” jelas Trias.

Ia mengakui sudah ada obrolan informal terkait keluhan kenaikan harga BBM ini, namun secara resmi belum ada laporan keberangkatan yang terkendala karena mayoritas nelayan masih memantau kondisi musim ikan yang saat ini belum terlalu melimpah.(Nang)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *