Jombang,Wartapanjalu.com — Suasana konferensi pers di Denanyar, Jombang, Selasa 10 Juni 2026, terasa berbeda. KH Abdussalam Shohib atau Gus Salam, menyampaikan hasil silaturahmi panjangnya ke berbagai tokoh dan struktur NU se-Indonesia. Inti pesannya tegas: PBNU perlu perubahan kepemimpinan.
Menurut Gus Salam, 90% PWNU dan PCNU yang ditemui menyampaikan harapan serupa. Bukan karena emosi sesaat, tapi karena rindu. “Mereka merindukan PBNU yang solid, berintegritas, mengayomi, terbuka, dan profesional,” ujarnya.
Bukan Soal Kuasa, tapi Kerinduan Jam’iyyah
Gus Salam menegaskan, yang dibutuhkan warga NU hari ini bukan pengurus yang datang dengan perintah dan program, lalu sibuk berburu suara demi mengamankan kuasa. Justru yang dirindukan adalah keteladanan: hadir mendampingi sebelum dipanggil.
Ia menilai, Konbes, Munas, dan Muktamar seharusnya jadi ruang uji kesungguhan PBNU. “Sayangnya, sinyal soliditas tidak tampak. Tanda kejujuran tidak terlihat. Agenda dan arah juga tidak dibuka,” kata Gus Salam.
Bagi dia, ini momentum PBNU merangkul daerah. Sebab NU yang besar adalah NU yang membuat daerah dan pesantrennya merasa besar. “Pesantren itu akar. Kalau akar kokoh, jam’iyyah akan tegak,” tambahnya.
5 Pilar PBNU Baru Versi Gus Salam
Untuk mengembalikan wibawa dan kehormatan PBNU, Gus Salam menawarkan lima pilar utama. Ia menyebutnya sebagai jalan menuju kepemimpinan transformatif di abad kedua NU.
1. Perkuat PWNU-PCNU Luar Jawa, Terutama Wilayah 3T
PBNU tidak boleh lagi sentralistik. Fokus tidak boleh hanya Jawa. PWNU-PCNU di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar punya potensi besar, tapi butuh akses, pembinaan, dan pendampingan.
“Mereka garda depan dakwah Aswaja An-Nahdliyah. Tugas PBNU ke depan adalah sinergi, luaskan koneksi, dan fasilitasi solusi bersama,” tegas Gus Salam.
2. Rekrut Pengurus Berintegritas, Kapabel, dan Ikhlas
Jam’iyyah butuh pengurus yang jujur, mampu bekerja, dan ikhlas berkhidmah. Rekam jejak pengabdian nyata di jam’iyah dan jama’ah jadi ukuran utama, bukan kedekatan atau popularitas.
Tujuannya jelas: kembalikan ruh muassis NU yang mengabdi tanpa pamrih. “Kepentingan jam’iyyah dan bangsa harus di atas interest pribadi,” katanya.
3. Merawat Persaudaraan, Hidupkan Ruh Muassis
PBNU harus jadi rumah besar yang adem, teduh, dan marem. Menjaga ukhuwah nahdliyyah, menghidupkan semangat muassis: berjuang untuk Islam, bangsa, dan kemanusiaan.
Mukadimah Qonun Asasi dan Khittah NU tetap jadi pedoman. Sementara hikmatul hukama jadi instrumen taktis memajukan ikhtiar.
4. Tata Kelola Transparan, Profesional, Akuntabel
Kepercayaan publik hanya bisa kembali lewat manajemen modern. Laporan program, keuangan, sampai evaluasi kinerja harus terbuka. Sistem digital dan audit internal diperkuat.
“Setiap kebijakan dan dukungan dana harus bisa dipertanggungjawabkan ke warga NU,” ujar Gus Salam.
5. Jaga Harmoni, Terbuka untuk Kolaborasi dan Inovasi
NU tidak alergi perubahan, tapi punya cara sendiri. Perubahan harus tetap jaga akidah, fikrah, dan khittah. PBNU wajib jaga harmoni internal, sekaligus buka kolaborasi seluas-luasnya untuk kemaslahatan umat.
Tugas PBNU ada tiga: memberi rambu pemandu, memberi panggung untuk berkembang, dan memberi perlindungan atas asas manfaat. “Inovasi harus didorong agar layanan NU relevan dengan zaman,” jelasnya.
NU Besar karena Daerah Kuat
Menutup pernyataannya, Gus Salam menegaskan satu hal: NU besar bukan karena PBNU hebat. “NU besar karena daerah dan instrumennya kuat, pengurusnya amanah, serta ruh perjuangannya kembali menyala demi khidmah jam’iyyah di abad kedua.”/Nang


Komentar