Kediri,Wartapanjalu.com— Pergantian Tahun Baru Islam selalu menjadi momentum spiritual yang istimewa bagi umat Muslim di Indonesia. Namun di Kelurahan Ngadirejo, Kecamatan Kota Kediri, momen 1 Muharram 1448 H kali ini terasa jauh lebih emosional. Setelah vakum selama lebih dari enam dekade, sebuah tradisi adiluhung yang sempat terkubur zaman akhirnya berhasil dihidupkan kembali.
Ratusan warga tumpah ruah ke jalanan, larut dalam sukacita Kirab Gunungan yang menjadi simbol rasa syukur sekaligus penghormatan terhadap warisan leluhur. Sebuah pemandangan yang tak hanya memanjakan mata, tetapi juga menggetarkan hati melalui potret nyata gotong royong masyarakat urban yang masih menjaga akar budayanya.
Merajut Kembali Memori yang Terputus Sejak Era 60-an
Gagasan untuk menggelar kembali kirab ini tidak muncul begitu saja. Kepala Kelurahan Ngadirejo, Heru Sugianto, mengungkapkan bahwa inisiatif ini lahir dari obrolan hangat dan diskusi panjang bersama para sesepuh serta tokoh masyarakat setempat. Mereka mencoba menggali kembali memori kolektif tentang indahnya kebersamaan warga Ngadirejo sebelum tahun 1965.
”Informasi dari para sesepuh menyebutkan tradisi ini pernah rutin ada pada tahun 60-an, lalu lama sekali vakum. Kini kami mencoba merintisnya kembali. Ini adalah upaya kami dalam nguri-uri (merawat) budaya leluhur, sekaligus memanjatkan doa bersama agar masyarakat senantiasa diberikan kesejahteraan,” ujar Heru, Selasa (16/6/2026).
Heru menambahkan, momentum ini menjadi sangat penting bukan hanya sekadar perayaan kosmetik, melainkan sebagai jembatan untuk mempererat kembali hubungan sosial dan kerukunan antarwarga yang mungkin sempat merenggang akibat kesibukan modernitas.
Gunungan Hasil Bumi: Simbol Harmoni Pedagang dan Buruh Pabrik
Ada yang unik dari gunungan yang diarak dalam kirab kali ini. Berbeda dengan gunungan tradisional yang umumnya murni berisi sayur dan buah, gunungan di Ngadirejo merefleksikan denyut nadi ekonomi warganya yang heterogen.
Tampak jajaran hasil bumi segar bersanding apik dengan aneka produk industri dan barang pabrikan. Struktur unik ini disusun langsung dari swadaya masyarakat, terutama para pedagang yang mendominasi mata pencaharian di Kelurahan Ngadirejo.
”Semua dikumpulkan secara gotong royong dari masyarakat. Alhamdulillah, para pedagang dan warga sangat antusias menyedekahkan sebagian hasil usahanya sebagai wujud rasa syukur kepada Allah SWT,” terang Heru.
Secara filosofis, Heru menjelaskan bahwa gunungan tersebut adalah miniatur dari persatuan warga. “Di sini ada hasil bumi dan barang pabrikan. Ini menggambarkan elemen masyarakat yang beragam. Tidak ada perbedaan kasta maupun jabatan; semuanya melebur menjadi satu dengan tujuan yang sama, memohon keberkahan,” imbuhnya.
Start dari Punden Setono, Libatkan Lebih dari 500 Peserta
Kemeriahan acara ini terlihat dari panjangnya barisan kirab yang diikuti oleh lebih dari 500 peserta. Mulai dari kelompok pengajian, lembaga kemasyarakatan kelurahan, tokoh adat, hingga anak-anak muda, semuanya kompak memakai pakaian khas adat dan muslim. Rute kirab sendiri mengambil jalur sakral lokal, dimulai dari Punden Setono dan berakhir di area makam Kelurahan Ngadirejo.
Apresiasi tinggi pun datang dari jajaran legislatif. Anggota Komisi A sekaligus Ketua Bapemperda Kota Kediri, Afif Fachrudin Wijaya, SE, yang hadir dalam acara tersebut, mengaku sangat bangga dengan kebangkitan kebudayaan lokal di Ngadirejo.
”Tujuan utama dari peringatan 1 Muharram ini adalah menghargai sejarah dan menjaga adab. Kirab gunungan yang tahun ini digelar untuk pertama kalinya adalah simbol kebangkitan tradisi. Kami ingin mengajak masyarakat untuk terus menjaga suasana yang guyub dan harmonis,” puji Afif.
Afif juga berharap agar kesuksesan gelaran perdana ini tidak menjadi yang terakhir, melainkan menjadi tonggak awal yang akan terus diwariskan kepada generasi-generasi muda Kediri di tahun-tahun mendatang.
Melalui semangat gotong royong yang menyala di sepanjang rute kirab, Kelurahan Ngadirejo berhasil membuktikan bahwa modernisasi tidak harus mengorbankan tradisi. Sebaliknya, tradisi bisa menjadi jangkar yang memperkuat fondasi persatuan di tengah keberagaman.(Nang)


Komentar