Kediri,Wartapanjalu.com– Dari sebuah dusun kecil di Kabupaten Kediri, alunan nada khas Suku Apache di Amerika justru mendunia. Adalah Sugianto (39), warga Dusun Ploso, Desa Ngampel, Kecamatan Papar, yang berhasil menyulap limbah kayu di sekitar rumahnya menjadi seruling etnik bernilai dolar.
Alat musik buatannya bukan seruling biasa. Ia membuat Native American Flute, seruling tradisional Suku Indian yang kini banyak diburu kolektor dan musisi mancanegara. Harganya pun tak main-main, mulai dari 100 Dolar AS atau sekitar Rp 1,6 juta untuk ukuran terkecil.
Belajar Tuning 14 Tahun di Bali Bersama Peneliti Jerman
Keahlian Sugianto tidak datang secara instan. Selama 14 tahun ia merantau dan tinggal di Bali. Di Pulau Dewata itulah pertemuannya dengan Mr. Arjen, seorang peneliti alat musik etnik asal Jerman, mengubah jalan hidupnya.
Dari Mr. Arjen, ia belajar mendalam tentang sistem penyetelan nada dari berbagai alat musik tradisional dunia.
“Saya banyak dibimbing memahami sistem tuning alat musik tradisional dari berbagai negara,” kenang Sugianto.
Salah satu produk andalannya bahkan mengadopsi pakem asli skala musik pentatonik khas Suku Apache, sehingga karakternya sangat autentik.
“Ini namanya Native American Flute dari suku Indian Apache. Asli dari sana untuk skala musiknya,” ujarnya.
Limbah Kayu Mahoni dan Mangga Jadi Bahan Baku Bernilai Ekspor
Yang membuat kisahnya semakin menarik adalah bahan bakunya. Sugianto tidak menggunakan kayu impor. Ia memanfaatkan limbah kayu yang melimpah di Kediri.
Kayu mahoni, mangga, sonokeling, turi, hingga nangka ia olah menjadi beragam model seruling, termasuk double flute berukuran besar yang paling rumit pembuatannya.
Alasannya sederhana dan penuh kearifan lokal.
“Saya lebih menggunakan sumber daya alam sekitar. Kayu-kayu kan banyak di sini, seperti kayu mahoni, kayu mangga, sonokeling, kayu turi sampai kayu nangka,” katanya.
Menurutnya, kayu justru lebih stabil dibanding bambu yang berkualitas bagus kini sulit ditemukan di wilayah Kediri.
Tembus Pasar 15 Negara, Kantongi Kontrak 7 Negara
Ketekunan menjaga kualitas suara dan presisi nada berbuah manis. Kini seruling buatan Sugianto telah terbang ke 15 negara di Asia, Eropa, Timur Tengah, hingga Amerika.
Beberapa negara tujuannya antara lain Australia, Malaysia, Vietnam, Thailand, China, Mesir, Prancis, Spanyol, Kanada, hingga Israel. Bahkan, ia telah mengantongi kontrak pemesanan tetap dari pembeli di tujuh negara.
Meski permintaan terus mengalir, Sugianto menolak untuk mengejar kuantitas. Baginya, membuat seruling adalah soal rasa dan presisi, bukan pabrikan.
Tuning Harus Presisi, Tak Bisa Diulang Seperti Gitar
Proses pembuatan seruling tidak bisa sembarangan. Berbeda dengan gitar yang senarnya bisa distel ulang setelah jadi, seruling harus tepat nadanya sejak kayu pertama kali dilubangi. Salah sedikit saja, suaranya akan cacat permanen.
“Kalau seruling harus tuning tepat saat pembuatan. Beda dengan alat musik gitar, itu bisa dituning ulang. Kalau ini harus tepat dari pembuatan. Jadi untuk penghasilan relatif,” jelasnya merendah.
Dari tangan dinginnya di Dusun Ploso, limbah kayu yang tadinya hanya jadi kayu bakar kini berubah menjadi alat musik etnik yang alunannya didengar dunia.(Sum)











Komentar