Kediri, WartaPanjalu.com – Derasnya arus globalisasi dan masifnya budaya pop asing di media sosial menjadi tantangan tersendiri bagi kelestarian bahasa daerah. Kondisi ini mendorong Anggota DPRD Kota Kediri sekaligus Ketua Fraksi Partai Golkar, Imam Wihdan Zarkasyi, S.T., M.M., mengajak generasi muda kembali bangga menggunakan bahasa Jawa.
Ajakan tersebut disampaikan dalam Sosialisasi Produk Hukum bertajuk “Bahasa Daerah Lestari, Bangga Budaya Sendiri” yang digelar di Balai Kelurahan Bandar Lor, Kota Kediri. Kegiatan ini diikuti sekitar 200 siswa dari berbagai SMA/SMK negeri maupun swasta se-Kota Kediri, Ahad (16/8/2026)
Tidak sekadar sosialisasi, kegiatan tersebut menjadi ruang dialog antara wakil rakyat, akademisi, pendidik, dan pelajar untuk membahas masa depan bahasa daerah di tengah derasnya perkembangan teknologi dan budaya digital.
Bahasa Jawa Bukan Sekadar Alat Komunikasi
Imam Wihdan mengatakan, bahasa Jawa memiliki posisi penting dalam kehidupan masyarakat Kediri. Bahasa daerah bukan hanya digunakan untuk berkomunikasi, tetapi juga menjadi bagian dari identitas, etika, tata krama, dan karakter masyarakat.
Menurutnya, tantangan terbesar saat ini adalah semakin dekatnya generasi muda dengan bahasa asing dan budaya populer yang mereka konsumsi setiap hari melalui media sosial.
“Bahasa daerah harus terus kita jaga. Jangan sampai anak-anak muda justru merasa malu atau tidak percaya diri menggunakan bahasa Jawa,” ujarnya.
Ia menegaskan, DPRD Kota Kediri siap memberikan dukungan melalui regulasi maupun penganggaran untuk berbagai program yang berkaitan dengan pelestarian budaya lokal.
Anak Muda Harus Dibuat Bangga
Akademisi UIN Syekh Wasil Kediri, Dr. Prilani, M.Si., menilai pelestarian bahasa Jawa tidak cukup hanya dengan imbauan. Generasi muda perlu diberikan ruang agar bahasa daerah terasa dekat, kreatif, dan relevan dengan kehidupan mereka.
Ia mendorong munculnya komunitas-komunitas kreatif yang menggunakan bahasa Jawa sebagai bagian dari aktivitas anak muda.
“Anak-anak muda perlu diberi motivasi agar tidak canggung menggunakan bahasa Jawa. Bahasa daerah harus dikemas dengan cara yang menarik supaya tetap relevan bagi Gen Z maupun generasi Alpha,” jelasnya.
Muncul Gagasan “Kamis Basa Jawa”
Sementara itu, perwakilan Cabang Dinas Pendidikan Wilayah Kediri Provinsi Jawa Timur sekaligus guru SMKN 2 Kediri, Sutimah, S.Pd., mengungkapkan keprihatinannya terhadap semakin berkurangnya penggunaan bahasa Jawa di kalangan pelajar.
Pengaruh media sosial dan maraknya budaya populer asing, termasuk drama Korea maupun Tiongkok, dinilai ikut membentuk kebiasaan bahasa anak muda.
Karena itu, ia mengusulkan penerapan “Kamis Basa Jawa” di sekolah. Dalam program tersebut, satu hari dalam sepekan, misalnya Kamis, seluruh siswa dan tenaga pendidik didorong menggunakan bahasa Jawa dalam berkomunikasi di lingkungan sekolah.
Menurutnya, jika sekolah mampu menerapkan English Day, maka tidak ada alasan untuk tidak memberikan ruang yang sama bagi bahasa Jawa.
Dinas Pendidikan Siap Tindak Lanjuti
Gagasan tersebut mendapat respons positif dari Kepala Dinas Pendidikan Kota Kediri, Drs. Mandung Sulaksono. Ia menyatakan kesiapan untuk menindaklanjuti penguatan penggunaan bahasa daerah melalui kurikulum maupun pembiasaan di lingkungan sekolah.
Sinergi antara DPRD, Dinas Pendidikan, akademisi, dan para pendidik diharapkan mampu melahirkan kebijakan yang tidak berhenti pada kegiatan seremonial.
Sebab, menjaga bahasa Jawa pada akhirnya bukan hanya soal mempertahankan sebuah bahasa, tetapi juga merawat identitas dan karakter masyarakat Kediri.
“Bahasa Daerah Lestari, Bangga Budaya Sendiri” pun diharapkan tidak sekadar menjadi slogan, melainkan berkembang menjadi gerakan bersama yang hidup di sekolah, keluarga, dan lingkungan masyarakat.(Sum/Her)










Komentar