*Jahe Ketan Pak Lek Imam*
Kalau kita perhatikan kalender bulan ini, ada sesuatu yang tidak biasa, dan bagi warga Kota Kediri, ini terasa lebih istimewa dari yang kita sadari.
Tanggal 17 Agustus, kita memperingati hari lahir Republik Indonesia yang ke-81. Delapan hari kemudian, tanggal 25 Agustus, kita memperingati hari lahir Nabi Muhammad SAW, Maulid Nabi 12 Rabiul Awal 1448 Hijriah. Dua hari lahir besar, dua peringatan agung, hadir dalam satu bulan yang sama.
Bagi kota lain mungkin ini sekadar kebetulan kalender. Tapi bagi Kediri, saya kira bukan begitu. Karena Kediri bukan kota biasa dalam dua cerita besar ini. Kota ini punya akar yang dalam di keduanya, dan Agustus 2026 ini adalah undangan untuk kita menyadari, lalu mengaktifkan kembali, akar itu.
Kediri Bukan Penonton Sejarah Kemerdekaan
Coba kita jujur pada sejarah. Indonesia merdeka bukan hanya karena diplomasi di meja perundingan atau pidato-pidato berapi-api di gedung-gedung besar kota metropolitan. Indonesia merdeka juga karena masjid-masjid dan pesantren di kota-kota seperti Kediri ini, yang menjadi dapur perjuangan, tempat berlindung, dan sumber semangat juang yang tak pernah padam.
Kediri bukan penonton. Ia pelaku langsung.
Pondok Pesantren Lirboyo, yang hari ini menjadi salah satu pesantren terbesar di Indonesia dengan puluhan ribu santrinya, sejak zaman Jepang sudah terlibat dalam barisan Hizbullah dan latihan kemiliteran. KH Mahrus Ali, salah satu pengasuh Lirboyo, hadir langsung dalam pertemuan para ulama NU di Surabaya pada Oktober 1945 yang melahirkan Resolusi Jihad, fatwa monumental yang menyulut Pertempuran 10 November.
Dari Kediri, santri-santri Lirboyo berangkat ke Surabaya untuk bertempur melawan pasukan Sekutu dan NICA.
Menurut sejarah, Di sisi lain kota, Pondok Pesantren Jampes berdiri bukan hanya sebagai lembaga pendidikan, tapi sebagai benteng perlawanan yang sesungguhnya. Masjid Jampes menjadi tempat berkumpul tentara nasional Indonesia sebelum melancarkan aksi gerilya di Kota Kediri.
Setiap malam, setelah salat Maghrib, para pejuang berbaris di halaman rumah KH Ihsan, meminta doa restu, lalu berangkat ke medan tempur. Ketika pertempuran berkecamuk, warga Desa Putih dan sekitarnya mengungsi masuk ke dalam pondok, karena semua pihak tahu bahwa tempat itu adalah tanah yang dijaga oleh ketulusan dan keberanian seorang kiai.
Dan Kediri juga menjadi salah satu titik rute gerilya Panglima Besar Jenderal Sudirman di masa Revolusi Kemerdekaan 1945–1949. Tanah ini sudah terbiasa menjadi tempat di mana sejarah besar terjadi.
Maka merayakan kemerdekaan di Kediri tanpa mengingat peran ulama, kiai, dan santri kota ini adalah seperti merayakan panen sambil lupa siapa yang menanam benihnya.
Kota Santri yang Mewarisi Cinta pada Nabi
Di sisi lain, Kediri bukan sekadar “kota santri” dalam arti statistik, berapa banyak pesantren, berapa ribu santri. Kediri adalah kota di mana tradisi keilmuan Islam dan kecintaan pada Nabi Muhammad SAW bukan sesuatu yang baru diimpor, tapi sudah tumbuh berabad-abad, berakar dalam, dan terus hidup hingga hari ini.
Dari Lirboyo sampai Jampes, mulai Al Alawi hingga Maunah Sari, dari pesantren besar sampai musholla-musholla kampung di Mojoroto, Kota, dan Pesantren, tradisi Maulid Nabi, pembacaan Barzanji, seni kajian sirah nabawiyah, dan penghafalan Al-Qur’an sudah menjadi denyut nadi keseharian kota ini jauh sebelum ada program pemerintah yang mengaturnya.
Nabi Muhammad SAW yang kita peringati kelahirannya 12 Rabiul Awaal, yang bertepatan dengan 25 Agustus nanti adalah tokoh yang membangun peradaban dari kondisi paling tidak menguntungkan: lahir yatim, besar dalam kemiskinan, berdakwah di tengah penolakan keras, tapi berhasil menyatukan manusia yang saling bermusuhan, membangun sistem keadilan yang belum pernah ada sebelumnya, dan mewariskan nilai-nilai yang masih relevan empat belas abad kemudian.
Santri Kediri: Pewaris Dua Warisan, Agen Satu Gerakan
Santri Kediri, dari puluhan ribu yang belajar di gugusan pesantren se-Kota Kediri, adalah satu-satunya kelompok yang secara historis dan kultural mewarisi dua warisan besar Agustus ini sekaligus. Kakek buyut kita yang nyantri mengangkat senjata dan membaca wirid dalam satu napas.
Leluhur spiritual tersebut membangun barisan Hizbullah sambil tidak pernah meninggalkan pengajian kitab kuning. Nasionalisme dan keislaman, bagi Kediri, bukan dua hal yang perlu diperdebatkan ketegangan di antaranya, karena sejak awal keduanya memang tumbuh dari akar yang sama.
Tapi warisan itu hanya bermakna kalau diaktifkan, bukan hanya dikenang.
Saya khawatir, dan ini kekhawatiran yang jujur, bukan tuduhan kepada siapa pun, bahwa Agustus ini akan lewat lagi seperti tahun-tahun sebelumnya: 17 Agustus ramai upacara dan lomba-lomba, 25 Agustus ramai pengajian Maulid, lalu setelahnya kembali seperti biasa. Semangat yang terbakar tidak diterjemahkan menjadi langkah nyata yang terasa di kampung-kampung.
Padahal Kediri, dengan modalnya yang luar biasa ini seharusnya bisa menjadi contoh nyata bagaimana dua warisan besar itu bertemu dalam aksi: gerakan membumikan Al-Qur’an yang masif, konsisten, dan terasa dampaknya; penguatan TPQ dari yang sepi menjadi ramai kembali; santri yang tidak hanya belajar di dalam pesantren tapi mengabdi di luar pesantren; dan generasi muda Kediri yang bangga menjadi bagian dari kota santri yang produktif dan beradab.
Kediri Sebagai Locus Aksi, Bukan Sekadar Tempat Upacara
Saya ingin mengakhiri tulisan ini dengan satu ajakan yang sederhana namun serius.
Agustus 2026 ini, dua hari besar yang bersanding perlu bagi kita untuk memutuskan bahwa kota ini bukan sekadar tempat peringatan diadakan, tapi tempat di mana semangat dua peringatan besar itu benar-benar diwujudkan. Ber agustusan sambil maulidan
Bukan dengan program yang megah dan berbiaya besar. Tapi dengan langkah yang paling dekat dengan kita masing-masing: pengurus masjid yang mengajak santri muda menjadi pengajar TPQ, orang tua yang mendorong anak-anaknya bangga belajar Al-Qur’an, dan siapa pun yang punya jaringan untuk menggerakkan, menggerakannya sekarang, bukan menunggu ada program resmi yang turun dari atas.
Karena sejarah Kediri sudah membuktikan satu hal: perubahan besar di kota ini tidak pernah dimulai dari gedung-gedung besar. Ia dimulai dari masjid kampung, dari halaman pondok pesantren, dan dari keberanian para kiai dan santri untuk bergerak meski kondisi belum sempurna.
Agustus ini, giliran kita.
Selamat menyambut 17 Agustus dan Maulidurrasul Muhammad. Semoga Kediri menjadi kota yang makin layak dibanggakan oleh para pejuangnya, dan layak diwariskan kepada anak cucu kita.
Penulis: “Pak Lek Imam sapaan akrab Imam Wihdan Zarkasyi Ketua Fraksi Partai Golkar Kota Kediri*











Komentar