Kediri,WartaPanjalu.com – Suasana di lapak-lapak pedagang Pasar Bandar dan Pasar Pahing belakangan ini tak sehangat biasanya. Riuh rendah tawar-menawar barang dagangan berselingan dengan keresahan para pedagang yang merasa kian terimpit. Ketidaksepakatan antara pedagang dan Perum
da Pasar Joyoboyo terkait penyesuaian tarif retribusi kios kini resmi memasuki babak baru.
Merasa aspirasi mereka tak kunjung diakui, gabungan pedagang dari kedua pasar tradisional tersebut bersiap melayangkan protes terbuka. Didampingi LSM SAROJA, ratusan pedagang dijadwalkan turun ke jalan menggelar aksi damai menuju Kantor DPRD dan Balai Kota Kediri pada Senin (21/9/2026).

Dari Mogok Jualan Hingga Tudingan Sepihak
Perselisihan ini tidak terjadi dalam semalam. Rangkaian peristiwa telah mengular panjang, dimulai dari aksi mogok berdagang di Pasar Bandar, dialog yang berujung buntu di lantai dua pasar, hingga surat permohonan audiensi ke wakil rakyat yang tak kunjung bersahut selama sepuluh hari.
Minyak semakin tersiram ke dalam api tatkala jajaran manajemen Perumda Pasar Joyoboyo menggelar jumpa pers beberapa hari lalu. Pernyataan Perumda yang menuding adanya penguasaan kios melebihi ketentuan oleh segelintir pedagang dinilai sebagai narasi sepihak yang membakar amarah warga pasar.
“Kami hanya ingin komunikasi dua arah antara pedagang dan pengelola pasar yang difasilitasi oleh DPRD Kota Kediri. Karena surat kami sudah sepuluh hari tidak ditanggapi, ya kami memilih turun jalan melalui aksi damai supaya suara kami didengar,” tegas Yunus, salah satu koordinator lapangan aksi.
Suara Hati Pedagang: Hapus Retribusi Pengunjung, Copot Dirut
Dalam aksi mendatang, para pedagang mengusung dua tuntutan utama demi menyelamatkan napas perekonomian pasar tradisional:
Kembali ke Regulasi Tradisional: Pedagang mendesak penghapusan retribusi masuk bagi pengunjung pasar. Mereka menilai tarif masuk justru memangkas minat masyarakat untuk berbelanja langsung, membuat kondisi pasar semakin sepi pembeli.
Evaluasi Kepemimpinan: Pedagang secara terbuka menuntut pencopotan Direktur Utama Perumda Pasar Joyoboyo. Manajemen saat ini dinilai gagal mengelola pasar dan justru memicu kegaduhan yang merugikan iklim usaha warga.
“Penghapusan retribusi pengunjung ini tujuannya sederhana: membuat masyarakat nyaman dan senang belanja ke pasar tradisional lagi, sehingga ekonomi pasar hidup kembali.”
Dugaan Penyelewengan dan Intimidasi
LSM SAROJA yang mendampingi perjuangan pedagang mengindikasikan adanya persoalan mendasar pada tata kelola internal pengelola pasar. Dewan Pengawas SAROJA, Supriyo, menyebut telah menemukan sejumlah kejanggalan setelah turun langsung memantau lapangan.
“Kami menduga ada penyelewengan maupun kebocoran anggaran yang tidak pernah diatasi. Di sinilah letak kesalahan Perumda yang berpotensi memicu kegagalan pengelolaan pasar secara keseluruhan,” lugas Supriyo.
Selain itu, Supriyo mengecam keras dugaan intimidasi oleh pegawai Perumda terhadap para pedagang. Meski jajaran direksi sempat membantah tuduhan tersebut saat jumpa pers, pihak pedagang mengklaim telah mengantongi bukti-bukti kuat.
Siap Tempuh Jalur Hukum
Meski ketegangan memuncak, pihak pedagang dan pendamping berharap aksi damai pada Senin mendatang dapat berjalan tertib serta menghasilkan solusi win-win solution melalui mediasi formal bersama Pemerintah Kota dan DPRD Kediri.
Namun, jika suara pedagang tetap diabaikan dan kebijakan yang memberatkan terus dipaksakan, LSM SAROJA menegaskan tidak akan ragu membawa polemik ini ke ranah hukum melalui gugatan resmi ke Pengadilan.(Sum/Dhy/Her)











Komentar