Bermula dari Keripik Singkong Manual di Tahun 2018
Kediri,WartaPanjalu.com – Buah nanas segar selama ini identik sebagai hidangan pencuci mulut atau pelengkap rujak. Namun, di tangan Suradi (66), warga Dusun Kweden, Desa Karangrejo, Kecamatan Ngasem, Kabupaten Kediri, nanas disulap menjadi olahan keripik renyah bernilai jual tinggi.
Perjalanan Suradi membangun usaha bernama Nugraha Jaya ini tidak terjadi dalam semalam. Ia merintis usahanya sejak tahun 2018. Pada masa-masa awal, pria gaek ini hanya memproduksi keripik singkong dengan peralatan seadanya dan mengandalkan tenaga manual.
Seiring melonjaknya pesanan, Suradi menyadari bahwa pengolahan manual membatasi kapasitas produksinya. Selain menguras tenaga, tingkat kematangan keripik kerap sulit dijaga. Ia kemudian memberanikan diri beralih menggunakan mesin goreng vakum yang bekerja lebih otomatis. Dengan mesin ini, suhu dan tekanan vakum dapat diatur presisi sehingga kerenyahan dan warna alami buah tetap terjaga.
Olahan 100% Rasa Asli Tanpa Pembuangan Mata Nanas
Inovasi Suradi tak berhenti di singkong. Ia terus bereksperimen hingga menelurkan enam varian produk: nanas, pisang, tape, singkong, ubi ungu, dan nangka. Dari keenam varian tersebut, keripik nanas melesat jadi primadona yang paling banyak dicari konsumen.
Proses pengolahan nanas ini terbilang unik dan cermat. Setelah membeli nanas dari pasar grosir, Suradi mengupas kulitnya satu per satu. Uniknya, ia sengaja tidak membuang bagian mata nanas. Untuk menghilangkan rasa gatal dan melunakkan teksturnya, potongan nanas direndam dalam larutan air garam berbutir besar (non-yodium).
Setelah itu, nanas dibilas dan direndam kembali menggunakan air bersih biasa agar kadar garamnya luntur total. Hasilnya, keripik nanas yang dihasilkan mempertahankan rasa buah yang original, manis, serta segar tanpa tambahan perasa buatan sedikit pun.
Dikemas Vakum Agar Tetap Crispy dan Tembus Luar Pulau
Karakter keripik nanas memang terbilang sensitif dibanding keripik buah lainnya. Suradi mengungkapkan, jika dibiarkan terpapar udara terbuka selama satu jam saja, teksturnya akan melunak dan kehilangan kerenyahan. Oleh karena itu, begitu selesai digoreng, keripik langsung dikemas secara khusus menggunakan teknik vakum.
Seluruh varian keripik di Nugraha Jaya dipasarkan dalam kemasan seragam berukuran 50 gram. Khusus keripik nanas, Suradi dibanderol dengan harga sekitar Rp13.500 per bungkus. Dalam satu kali proses produksi, ia mampu menghasilkan kurang lebih 20 kemasan.
Saat ini, produk Nugraha Jaya telah merambah ke 13 outlet di area Kediri hingga menembus wilayah Jombang. Tak hanya lokal Jawa Timur, kepopuleran keripik nanas ini pernah memikat pembeli asal Rokan Hilir, Riau, yang datang langsung untuk memborong seluruh stoknya.
Kewalahan Saat Lebaran dan Komitmen Nol Limbah
Lonjakan permintaan biasanya terjadi secara signifikan saat memasuki bulan Ramadan dan menjelang Hari Raya Lebaran. Bahkan, Suradi sering kali harus menutup pendaftaran pesanan seminggu sebelum Lebaran karena kapasitas produksi yang penuh, menyusul banyaknya pembeli borongan dalam hitungan kilogram.
Di balik kesuksesan yang diraihnya, Suradi tetap memegang teguh prinsip ramah lingkungan. Sisa-sisa bahan baku seperti kulit atau potongan yang tak terpakai dimanfaatkan kembali. Limbah organik tersebut ditampung dalam tong khusus untuk diolah menjadi pupuk kompos.
Kini, Suradi memendam asa besar untuk membawa Nugraha Jaya ke level yang lebih tinggi. Pria yang mengagumi potensi nanas sebagai komoditas unggulan Kediri ini berharap dapat membentuk manajemen usaha yang lebih profesional, lengkap dengan struktur organisasi serta manajer khusus agar operasional dan pemasaran bisa semakin meluas.(Sum/Her)











Komentar