Sosialisasi Bangga Kencana di Puhsarang tekankan pentingnya gizi seimbang, pola asuh tepat, dan sanitasi sehat demi mewujudkan Generasi Emas 2045.
Kediri,WartaPanjalu.com — Percepatan penurunan stunting di Kabupaten Kediri membutuhkan lebih dari sekadar pemenuhan gizi. Edukasi keluarga, pola asuh yang tepat, serta lingkungan sehat menjadi faktor penting untuk memastikan anak tumbuh optimal menuju Generasi Emas 2045.
Hal tersebut mengemuka dalam kegiatan sosialisasi dan komunikasi, informasi, edukasi (KIE) Program Bangga Kencana serta percepatan penurunan stunting di Balai Desa Puhsarang, Kecamatan Semen, Kabupaten Kediri, Rabu (28/10/2026).
Kegiatan yang diikuti ratusan warga tersebut menghadirkan narasumber dari BKKBN Provinsi Jawa Timur, Sukamto, S.E., M.Si., perwakilan OPD BKKBN Kabupaten Kediri, Dra. Sarkaning Dewi Pregiwasari, M.M., serta Anggota Komisi IX DPR RI, Pulung Agustanto.
Peserta yang didominasi ibu hamil, ibu menyusui, dan kader posyandu mendapatkan edukasi mengenai pemenuhan kebutuhan gizi, pengasuhan anak, hingga pentingnya menjaga kesehatan lingkungan sebagai bagian dari upaya mencegah stunting.
Gizi Seimbang Dimulai dari 1.000 Hari Pertama Kehidupan
Narasumber BKKBN Provinsi Jawa Timur, Sukamto, menekankan pentingnya pemenuhan gizi selama 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), yakni sejak masa kehamilan hingga anak berusia dua tahun.
Menurutnya, pencegahan stunting tidak selalu membutuhkan bahan pangan mahal. Keluarga dapat memanfaatkan sumber pangan lokal yang mudah diperoleh dan kaya nutrisi untuk memenuhi kebutuhan gizi ibu dan anak.
“Gizi hebat tidak harus mahal. Kita bisa memanfaatkan hasil bumi Kediri yang subur seperti telur ayam, tahu, tempe, hingga ikan lele segar sebagai sumber protein hewani berkualitas untuk mencegah stunting,” ungkap Sukamto.
Ia menegaskan, pemenuhan gizi perlu dilakukan secara konsisten, terutama sejak masa kehamilan. Asupan nutrisi yang memadai menjadi salah satu faktor penting untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangan anak secara optimal.
Sementara itu, Dra. Sarkaning Dewi Pregiwasari menyoroti peran keluarga dalam membangun kebiasaan hidup sehat dan menerapkan pola pengasuhan yang tepat.
Ia mengingatkan orang tua agar memperhatikan usia dan kebutuhan anak dalam pemberian makanan. Pemberian makanan pendamping sebelum bayi berusia enam bulan, konsumsi makanan instan secara berlebihan, serta penggunaan gawai tanpa pengawasan menjadi sejumlah hal yang perlu diperhatikan.
Penerapan Delapan Fungsi Keluarga juga dinilai penting untuk membangun lingkungan yang mendukung tumbuh kembang anak, baik dari sisi kesehatan, pendidikan, perlindungan, maupun pembentukan karakter.
Sanitasi Sehat Jadi Bagian Penting Pencegahan Stunting
Selain pemenuhan gizi dan pola asuh, masyarakat juga diajak memperhatikan kebersihan lingkungan. Akses terhadap air bersih dan sanitasi layak menjadi bagian penting dalam upaya mencegah stunting.
Lingkungan yang tidak sehat dapat meningkatkan risiko diare pada anak. Kondisi tersebut berpotensi mengganggu penyerapan nutrisi sehingga kebutuhan gizi untuk pertumbuhan tidak terpenuhi secara optimal.
Karena itu, keluarga didorong menjaga kebersihan lingkungan, menggunakan jamban sehat, serta memastikan anak memperoleh makanan bergizi dan perawatan kesehatan yang memadai.
Upaya tersebut turut diperkuat melalui berbagai program intervensi pemerintah, di antaranya Program Makan Bergizi Gratis bagi ibu hamil, ibu menyusui, dan balita atau MBG 3B, serta Dapur Sehat Berbasis Pangan Desa (DASHAT).
Pulung Agustanto: Masih Ada 6.000 Anak yang Perlu Perhatian
Menutup rangkaian pemaparan materi, Anggota Komisi IX DPR RI, Pulung Agustanto, menegaskan bahwa penanganan stunting harus terus menjadi perhatian bersama. Menurutnya, kehadiran negara di tengah masyarakat penting untuk memastikan program kesehatan keluarga berjalan tepat sasaran dan memberikan manfaat nyata.
Berdasarkan data yang disampaikan dalam kegiatan tersebut, prevalensi stunting di Kabupaten Kediri turun dari 24 persen pada 2021 menjadi 8,4 persen. Meski menunjukkan perkembangan positif, masih terdapat sekitar 6.000 anak yang mengalami stunting dan membutuhkan perhatian serius.
Pulung menilai capaian tersebut perlu menjadi motivasi untuk memperkuat upaya pencegahan dan penanganan stunting, bukan alasan untuk mengendurkan langkah yang telah dilakukan.
Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, tenaga kesehatan, kader posyandu, dan keluarga agar upaya penurunan stunting dapat berjalan berkelanjutan.
Suasana kegiatan pun mencair ketika Pulung melontarkan guyonan khasnya di hadapan warga.
“Apa bedanya Pil KB dan Pileg? Pil KB nek lali dadi, Pileg nek dadi lali. Kehadiran saya hari ini adalah bukti bahwa wakil rakyat tidak lupa dengan warga Kabupaten Kediri,” ujarnya, disambut gelak tawa dan tepuk tangan peserta.
Di akhir pemaparannya, masyarakat diingatkan untuk rutin membawa anak ke posyandu guna memantau berat badan, tinggi badan, dan perkembangan anak. Pemantauan sejak dini diharapkan membantu mendeteksi masalah pertumbuhan sehingga penanganan dapat dilakukan lebih cepat.
Melalui sinergi edukasi, pemenuhan gizi, pola asuh yang tepat, dan perbaikan sanitasi, upaya menekan stunting di Kabupaten Kediri diharapkan semakin kuat demi melahirkan generasi yang sehat, cerdas, dan berkualitas menuju Indonesia Emas 2045.(*/Sum/Her)







Komentar