Kediri,Wartapanjalu.com – Memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas), ratusan guru dari berbagai jenjang pendidikan di Kota Kediri berkumpul dalam sebuah sarasehan intensif. Acara yang digelar pada Sabtu sore (2/5/2026) di Balai Kecamatan Mojoroto ini menghadirkan Anggota DPRD Kota Kediri, akademisi, dan perwakilan guru untuk membahas tantangan terkini dunia pendidikan, mulai dari fenomena kekerasan pada anak hingga pentingnya kesejahteraan guru.
Hadir sebagai narasumber utama adalah Imam Wihdan Zarkasyi, ST.MM, Ketua Fraksi Partai Golkar DPRD Kota Kediri yang juga anggota Komisi A (Hukum dan Pemerintahan). Turut hadir Dr. Ahmad Khairul Mustamir, Ketua Program Studi Pascasarjana Universitas Islam Tribakti Liboyo, serta Aris Sulistiono, guru SMP Negeri 9 Kota Kediri. Sekitar 120 peserta, yang mayoritas merupakan guru negeri dan swasta dari Kecamatan Mojoroto, antusias mengikuti diskusi tersebut.
Deteksi Dini Masalah Siswa: Peran Strategis Guru
Imam Wihdan Zarkasyi menyoroti urgensi peran guru sebagai garda terdepan dalam mendeteksi masalah psikologis dan sosial siswa. Ia mengutip beberapa kasus tragis yang terjadi belakangan ini, seperti bunuh diri among pelajar, kekerasan dalam keluarga, hingga penutupan akses sekolah oleh orang tua akibat konflik internal.
“Guru adalah pihak yang paling dekat dengan anak sekolah. Sinyal-sinyal masalah seharusnya bisa terbaca lebih awal oleh guru sebelum terlambat,” ujar Imam Wihdan dalam sambutannya.
Politikus Golkar ini menekankan bahwa pendidikan bukan hanya tanggung jawab pemerintah, melainkan kewajiban bersama yang membutuhkan kolaborasi aktif antara pemerintah, masyarakat, dan tenaga pendidik. “Kita ingin mencari solusi bersama. Jika pendidikan berjalan baik dan sekolah kondusif, maka tekanan terhadap siswa dapat ditekan. Momentum Hardiknas ini kita jadikan sarana untuk mengingatkan bahwa semua pihak harus ‘turun tangan’ secara kolaboratif,” tambahnya.
Lingkungan Ramah Pendidikan dan Penanaman Nilai
Senada dengan hal tersebut, Dr. Ahmad Khairul Mustamir dari Universitas Islam Tribakti Liboyo menyatakan bahwa pendidikan modern tidak lagi sekadar urusan di dalam kelas, tetapi bagaimana menciptakan lingkungan yang ramah pendidikan (educational friendly environment).
Menurut akademisi tersebut, percepatan teknologi harus diimbangi dengan percepatan penanaman nilai-nilai moral. “Banyak kasus bunuh diri dan kekerasan terjadi karena adanya kesenjangan norma. Kita perlu kembali meningkatkan semangat pengembangan nilai dalam pendidikan,” jelasnya.
Dr. Mustamir juga menyinggung pentingnya peningkatan kompetensi guru secara berkelanjutan. Ia mengkritik adanya sikap stagnasi atau “ego merasa sudah selesai belajar” pada sebagian pendidik. “Menangani manusia yang terus berkembang menuntut guru untuk terus belajar dari awal hingga akhir hayat. Kompetensi guru di Kediri sudah bagus, namun perlu perhatian lebih untuk pengembangan kontinu, termasuk menyikapi isu-isu sensitif seperti kesetaraan gender dan dinamika sosial lainnya,” paparnya.
Ia juga mengapresiasi adanya ruang dialog antara akademisi, pejabat, dan praktisi pendidikan untuk merumuskan kebijakan yang solutif, bukan hanya bersifat materiil, tetapi juga menyentuh aspek psikologis dan sosial masyarakat.
Aspirasi Guru: Sinergitas dan Kesejahteraan
Dari sisi praktisi, Aris Sulistiono, guru SMP Negeri 9 Kota Kediri, menyampaikan aspirasi rekan-rekan pendidik. Poin utama yang disampaikan adalah harapan akan peningkatan kesejahteraan guru dan pembangunan sinergitas yang lebih kuat antara guru dengan dinas terkait.
“Membangun karakter anak tidak bisa dilakukan jika sistem pendukungnya lemah. Guru butuh diperhatikan, bukan hanya saat hari pendidikan, tetapi dalam keseharian,” ungkap Aris.
Ia juga menyoroti pentingnya kejelasan regulasi daerah dalam mendukung implementasi kebijakan pusat. Meskipun peraturan berasal dari pusat, eksekusi di lapangan sangat bergantung pada kebijakan daerah. “Harapan kami, ada perbedaan yang positif dan dukungan nyata dari pemda dibandingkan periode sebelumnya, khususnya terkait klasifikasi dan dukungan untuk guru SD, SMP, dan TK negeri se-Kota Kediri,” pungkasnya.(Nang/Her)


Komentar