Trenggalek,Wartapanjalu.com--Seekor sapi lokal bernama “Pur” menjadi pusat perhatian di Kabupaten Trenggalek jelang Idul Adha 2026. Sapi dengan bobot tembus satu ton ini terpilih sebagai hewan kurban Bantuan Presiden (Banpres) dari Presiden RI Prabowo Subianto. Di balik kemegahannya, tersimpan kisah perjuangan peternak lokal, Mujadi (61), yang berhasil menyembuhkan sapi tersebut dari Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) hingga menjadi primadona.
Sapi yang kini berada di kandang belakang rumah Mujadi di Desa Pogalan, Kecamatan Pogalan, ini bukan sekadar hewan ternak biasa. Proses penggemukannya yang penuh dedikasi dan ketelatenan akhirnya membuahkan hasil manis ketika Dinas Peternakan Trenggalek menentukannya sebagai wakil sapi lokal Trenggalek untuk Banpres tahun ini.
Perjuangan Bangkit dari Kematian Akibat PMK
Mujadi, atau yang akrab disapa Jadul, menceritakan awal mula ia mendapatkan sapi jantan tersebut dari desa sebelah saat usianya masih dua setengah tahun. Saat itu, bobot sapi hanya sekitar 6 kuintal dengan harga beli Rp35 juta. Namun, nasib buruk sempat menghampiri ketika wabah PMK melanda.
“Saya pelihara bagus-bagus, eh kena PMK. Saya obati, sapi-sapi lain tidak bisa sembuh dan mati, tapi yang satu ini bertahan,” kenang Mujadi saat ditemui di kediamannya, Kamis (21/5/2026).
Melihat ketahanan hidup sapi tersebut, Mujadi bertekad untuk membesarkannya hingga sembuh total. Ia memberi nama sapi itu “Pur”, menghormati pemilik sebelumnya, Bapak Pur. Tekadnya terbukti benar. Sapi itu tidak hanya sembuh, tetapi tumbuh menjadi sangat besar.
“Tahu-tahu petugas peternakan keliling cari sapi kurban. Mereka kaget lihat sapi ini sudah begitu besar. Padahal tahun-tahun sebelumnya masih kurus karena baru sakit,” imbuhnya.
Resep Rahasia Penggemukan: Jagung Halus dan Air Panas
Keberhasilan Mujadi mengangkat bobot sapi “Pur” hingga menembus angka di atas 9 kuintal (bahkan mendekati 1 ton) bukan tanpa strategi. Pria yang sudah berkecimpung di dunia peternakan sejak muda ini memiliki “racikan” khusus untuk penggemukan.
Jadul menjelaskan, kunci utamanya adalah konsistensi dan nutrisi tinggi. Setiap hari, sapi diberi minum air hingga satu kardus lebih sampai habis. Untuk pakan, ia mencampurkan bahan-bahan berkualitas seperti gemukan, polar, ampas tahu, dan jagung.
“Jagungnya saya giling halus, lalu diseduh air panas sebelum dicampur ke pakan lain. Ini bikin nafsu makan sapi terjaga dan cepat gemuk,” ungkap Jadul seraya menunjukkan teknik perawatannya.
Diburu Pembeli, Namun Sudah ‘Dipesan’ Negara
Kualitas sapi “Pur” yang unggul membuatnya menjadi incaran banyak pembeli. Jadul mengakui, sebelum ada informasi resmi dari Dinas Peternakan Trenggalek, ia sudah menerima tawaran dari berbagai pihak, termasuk pelanggan setia dari Bogor, Jawa Barat.
Namun, Jadul dengan tegas menolak tawaran tersebut karena sapi itu sudah menjadi bagian dari program nasional. “Maaf Pak, ini sudah dipesan oleh Kabupaten Trenggalek untuk Banpres Bapak Presiden Prabowo,” katanya sambil tersenyum bangga.
Sapi ini rencananya akan disembelih di salah satu masjid di Kecamatan Gandusari, Trenggalek, sebagai bagian dari distribusi daging kurban bantuan presiden kepada masyarakat kurang mampu.
Kebanggaan Peternak Lokal Trenggalek
Bagi Mujadi, terpilihnya sapi peliharaannya sebagai Banpres adalah puncak kebanggaan. Sebagai peternak yang hidup dari sapi sejak anaknya belum lahir (kini anaknya berusia 29 tahun), momen ini menjadi bukti nyata bahwa peternak lokal Trenggalek mampu menghasilkan hewan ternak berkualitas nasional.
“Saya senang dan bangga. Sapi ini kalau sudah masuk Banpres, artinya sudah terkenal se-Trenggalek. Alhamdulillah, ini betul-betul kenyataan,” ujarnya.
Jadul juga menuturkan bahwa tahun ini ia telah menjual sekitar 30 ekor sapi untuk memenuhi permintaan pasar Idul Adha. Meski biasanya ia memiliki dua atau tiga sapi “icon” berukuran besar, tahun ini hanya “Pur” yang selamat dan tumbuh maksimal akibat dampak wabah PMK yang sempat mengguncang populasi ternak setempat.
Kisah Mujadi dan sapi “Pur” menjadi inspirasi bagi peternak lain di Trenggalek. Bahwa dengan perawatan intensif, kesabaran, dan ilmu yang tepat, sapi lokal pun bisa bersaing dan bahkan menjadi pilihan utama untuk acara bergengsi tingkat nasional.(*/Nang)


Komentar