“Kolaborasi – Transformasi” di Masjid Al Haramain, Bandar Kidul, Warga Curhat Langsung ke Ketua Fraksi Golkar
Kediri,Wartapanjalu.com– Ketua Fraksi Partai Golkar DPRD Kota Kediri, Imam Wihdan Zarkasyi, S.T., M.M. atau akrab disapa “Pak Lek Imam” turun langsung menyerap aspirasi masyarakat dalam agenda Reses DPRD Kota Kediri, Jumat (5/6/2026).
Bertempat di teras Masjid Al Haramain GOR Joyoboyo, Bandar Kidul, Kecamatan Mojoroto, kegiatan yang mengusung tema “Kolaborasi – Transformasi” ini dihadiri sekitar 100 warga. Forum reses dimanfaatkan sebagai ajang curhat warga mulai dari pendidikan, kemacetan, hingga program keagamaan.
“Saya Bertugas Jadi Telinga” : Reses Bukan Sekadar Seremoni
Dalam sambutannya, Imam Wihdan menegaskan bahwa reses adalah forum penting untuk mendengar langsung kebutuhan warga.
“Saya sebenarnya berfungsi sebagai telinga untuk bisa saya tampung, saya kemas bareng-bareng, lalu kita sampaikan ke pihak yang akan melaksanakan pembangunan di Kota Kediri,” ujar Pak Lek Imam di hadapan warga.
Menurutnya, pembangunan tidak bisa dikerjakan sendiri oleh pemerintah. Keterlibatan masyarakat menjadi kunci. “Tidak selesai kalau bapak-ibu hanya menyampaikan keinginan. Harapannya, bapak-ibu semua ikut turun tangan. Kita akan bantu, kita kerjakan sama-sama,” tegasnya.
Ia juga menyoroti pentingnya pendidikan dalam membentuk karakter anak.
“Anggaran Kota Kediri tentu saya ingin tepat sasaran. Saya ingin dengar langsung dari bapak-ibu, apa yang terjadi di lapangan supaya program pendidikan, termasuk pendidikan karakter, berjalan lebih baik,” tambahnya.
Warga Keluhkan “Polisi Cepek” di Perempatan: Membantu atau Membebani?
Sesi dialog berlangsung hangat. Salah satu warga, Junedi asal Blabak, Kota Kediri, menyoroti fenomena “polisi cepek” yang marak di perempatan jalan.
“Satu sisi cukup membantu mengatur lalu lintas. Tapi di sisi lain, juga memberikan beban ke pengendara. Dari rumah sampai kota, kalau dihitung bisa keluar Rp30 ribu,” ungkap Junedi.
Ia mempertanyakan legalitas petugas sukarela tersebut. “Apakah ini memang ada dasar hukumnya? Atau ilegal? Kalau ilegal, barangkali pemerintah bisa kasih solusi, misalnya digaji biar tidak membebani masyarakat.”
Warga lain juga mempertanyakan kelanjutan Program Quran Masif yang disebut sudah dianggarkan namun belum berjalan. “Program Al Quran Masif sebenarnya sudah diajukan, sudah dianggarkan. Tapi sampai hari ini belum ada legalitasnya,” kata salah satu peserta reses.
Jawaban Pak Lek Imam: Dorong Smart City, Akui Anggaran Daerah Turun
Menanggapi “polisi cepek”, Imam Wihdan menjelaskan bahwa kondisi lalu lintas di Kediri memang butuh penanganan serius. Solusi jangka panjang yang didorong DPRD adalah pengembangan smart city.
“CCTV sudah banyak terpasang di perempatan, tapi belum terhubung satu sama lain. Kalau sistemnya terintegrasi, pengaturan arus lalu lintas bisa lebih cepat dan tidak harus bergantung pada orang di jalan,” jelasnya.
Ia mengakui, mewujudkan kota yang tertib butuh waktu. “Kita dorong Kediri jadi kota yang semestinya. Tidak ada lagi kemacetan di pojok-pojok jalan. Tapi ini perlu proses panjang.”
Terkait Program Quran Masif, Imam Wihdan mengaku belum merasakan langsung implementasinya, namun menegaskan pentingnya program tersebut.
“Fungsi dasarnya untuk mendukung Kota Kediri sebagai Kota Santri. Quran Masif cukup memberikan dorongan yang kuat.”
Transfer Keuangan Daerah Turun, Program Jangka Panjang Tertunda
Imam Wihdan juga membeberkan tantangan anggaran yang dihadapi Pemkot Kediri. Dua tahun terakhir, transfer keuangan daerah mengalami penurunan signifikan.
“Pemerintah ini lagi bingung. Program yang tidak langsung berhubungan dengan kebutuhan dasar masyarakat harus ditunda sementara,” ungkapnya jujur.
Ia mencontohkan, kegiatan pembangunan saat ini mendahulukan kebutuhan mendesak seperti peningkatan jalan dan bantuan sosial. “Ukurannya jelas dan harus ditangani dulu.”
Namun, ia mengingatkan, program seperti Quran Masif tidak boleh berhenti.
“Ukurannya memang jangka panjang. Tapi kalau tidak dilakukan rutin setiap tahun, bisa mengurangi kualitas generasi yang akan datang.”
Karena itu, ia berharap ada formula lain agar program bermanfaat jangka panjang tetap berjalan. “Kita cari cara supaya manfaatnya tetap dirasakan masyarakat.”
Komitmen: Aspirasi Warga Akan Dikawal
Menutup dialog, Imam Wihdan berjanji akan membawa semua masukan warga ke pembahasan di DPRD dan Pemkot Kediri.
“Forum ini forum kita semua. Banyak hal masuk dari bapak-ibu. Tugas saya menampung dan mengawal supaya pembangunan yang kita impikan sama-sama bisa berjalan lebih baik ke depan,” pungkasnya.
Reses DPRD Kota Kediri ini menjadi bukti bahwa kolaborasi pemerintah dan warga adalah kunci transformasi kota. Mulai dari persoalan “polisi cepek” hingga pendidikan karakter, semua jadi bahan evaluasi untuk Kediri yang lebih baik.(*/Nang)


Komentar