oleh

Tanpa Kirab Budaya, Ribuan Warga Tetap Padati Grebeg Suro Desa Gedangsewu Kediri

Kediri,Wartapanjalu.com–– Ada yang berbeda dari perayaan Grebeg Suro 1448 Hijriah di Desa Gedangsewu, Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri tahun ini. Tidak ada iring-iringan kirab budaya yang meriah dari lapangan desa seperti tahun-tahun sebelumnya. Namun, ketiadaan pawai tersebut sama sekali tidak menyurutkan langkah ribuan warga untuk datang dan merapal doa bersama.

​Sejak Jumat pagi, kawasan Punden Sumberwungu sudah dipadati sekitar 2.000 warga. Mereka datang berbondong-bondong, menyunggi tumpeng di atas kepala, membawa harapan dan rasa syukur yang tulus atas rezeki, kesehatan, serta keselamatan yang mereka nikmati sepanjang tahun lalu.

Sederhana Namun Sarat Makna
​Kepala Desa Gedangsewu, Roeslan Abdulgani, menuturkan bahwa keputusan untuk meniadakan kirab budaya tahun ini merupakan hasil kesepakatan bersama antara pemerintah desa dan masyarakat. Alih-alih berparade, seluruh rangkaian acara langsung dipusatkan di area Punden Sumberwungu.

​”Tahun kemarin memang ada kirab budaya dari lapangan ke sini. Tahun ini, berdasarkan kesepakatan bersama, acara dipusatkan langsung di punden,” ujar Roeslan saat ditemui di lokasi acara, Jumat.

Langkah ini diambil bukan tanpa alasan. Selain untuk menyesuaikan kebutuhan teknis di lapangan, efisiensi anggaran juga menjadi pertimbangan utama. Apalagi, seluruh biaya operasional acara ini murni lahir dari swadaya dan kocek mandiri masyarakat setempat.

Esensi Syukur di Atas Kemeriahan
​Bagi warga Gedangsewu, Grebeg Suro bukanlah panggung untuk sekadar pamer kemegahan. Riuh rendahnya acara hanyalah bonus, sementara inti dari tradisi ini adalah ketulusan hati untuk bersyukur dan merawat kebersamaan.

​Meskipun format acara dikemas lebih sederhana, antusiasme warga antar-dusun justru kian solid. Ribuan orang duduk bersila, membaur tanpa sekat, mengikuti prosesi selamatan dan doa bersama yang menjadi roh dari perayaan menyambut tahun baru Islam ini.

​”Yang terpenting adalah masyarakat bisa berkumpul, berdoa bersama, dan bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa. Alhamdulillah, tahun ini juga berjalan lancar dan dihadiri sekitar 2.000 warga,” kata Roeslan tersenyum.

Hiburan Jaranan Turonggo Mudo Baru Jadi Penutup
​Setelah ritual doa yang khidmat selesai dan jeda ibadah salat Jumat, suasana punden kembali hidup. Warga disuguhi penampilan seni jaranan lokal, Turonggo Mudo Baru, yang beraksi memukau hingga sore hari. Pementasan seni tradisional ini menjadi hiburan rakyat yang menyegarkan sekaligus pengunci seluruh rangkaian acara.

​Bagi masyarakat setempat, Grebeg Suro adalah ruang kultural untuk merawat semangat gotong royong agar tidak pudar digilas zaman. Roeslan pun menaruh harapan besar agar generasi muda Desa Gedangsewu tidak kehilangan obor tradisi ini.

​”Yang penting tradisinya tetap hidup, masyarakat tetap guyub (rukun), dan nilai syukur kepada Tuhan tetap menjadi bagian dari kehidupan warga,” pungkasnya.(Nang)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *