Kediri,Wartapanjalu.com– Suasana berbeda terasa di kawasan Cagar Budaya Totok Kerot, Kabupaten Kediri. Di bawah rindangnya pepohonan dengan nuansa khas bulan Suro, sejumlah juru pelihara cagar budaya tampak berkumpul membawa semangat yang sama: merawat peninggalan leluhur agar tetap lestari.
Pemerintah Kabupaten Kediri melalui Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) kembali menggelar tradisi Merti Cagar Budaya, sebuah kegiatan jamasan atau pembersihan benda cagar budaya. Tahun ini, prosesi difokuskan pada Arca Totok Kerot, salah satu peninggalan sejarah yang menjadi ikon budaya Kediri.
Bukan sekadar membersihkan sebuah benda kuno, tradisi ini menjadi simbol penghormatan terhadap perjalanan panjang sejarah yang tersimpan di balik batu arca tersebut.
Tumpengan dan Doa Bersama Awali Prosesi Jamasan
Sebelum proses jamasan dimulai, suasana khidmat menyelimuti pelataran situs. Para sesepuh dan tokoh masyarakat mengenakan pakaian adat, berkumpul untuk mengikuti prosesi tumpengan dan doa bersama.
Doa-doa dipanjatkan untuk memohon keselamatan, ketenteraman, serta keberkahan bagi masyarakat Kabupaten Kediri. Momentum bulan Suro juga menjadi waktu untuk mengucapkan rasa syukur sekaligus menyambut tahun baru Jawa dengan harapan kehidupan yang lebih baik.
Harapan agar masyarakat Kediri mendapatkan bejo mulyo atau keberuntungan dan kemuliaan menjadi bagian dari doa yang mengiringi kegiatan tersebut.
Juru Pelihara Bergerak Mandiri Rawat Warisan Leluhur
Kepala Bidang Sejarah dan Purbakala Disparbud Kabupaten Kediri, Eko Priatno, mengatakan kegiatan Merti Cagar Budaya bukan hanya agenda seremonial pemerintah, tetapi lahir dari kepedulian para juru pelihara yang selama ini berada di garis depan menjaga peninggalan sejarah.
“Alhamdulillah, hari ini kita mengadakan kegiatan Merti Cagar Budaya berupa jamasan Arca Totok Kerot. Ini merupakan inisiatif mandiri yang luar biasa dari teman-teman juru pelihara cagar budaya di Kabupaten Kediri,” ujar Eko.
Menurutnya, semangat tersebut menunjukkan bahwa kepedulian terhadap peninggalan sejarah sudah tumbuh dari masyarakat sendiri.
“Kemarin sudah saya laporkan kepada kepala dinas dan beliau sangat mendukung. Karena kegiatan ini benar-benar dilakukan secara mandiri, teman-teman juru pelihara tergerak sendiri untuk merawat cagar budaya,” tambahnya.
Makna Merti Cagar Budaya di Bulan Suro
Eko menjelaskan, istilah merti atau amerti memiliki makna merawat dan memelihara. Melalui kegiatan jamasan, kondisi fisik arca dibersihkan dan dirawat agar tetap terjaga untuk generasi mendatang.
Pemilihan bulan Suro juga memiliki nilai budaya tersendiri. Dalam tradisi Jawa, bulan ini kerap menjadi momentum refleksi, membersihkan diri, serta memperkuat hubungan manusia dengan sejarah dan budaya leluhur.
“Yang kita lakukan adalah membersihkan, menyikat, dan merawat fisik arca agar tetap lestari,” jelas Eko.

Menarik Perhatian Peneliti Antropologi dari Jepang
Keunikan tradisi jamasan Arca Totok Kerot ternyata tidak hanya menarik perhatian masyarakat lokal. Kegiatan tersebut juga memikat seorang peneliti muda asal Jepang, Saki Maeta (26), mahasiswa program Doktoral (S3) Kobe University yang sedang melakukan riset antropologi budaya di Indonesia.
Saki terlihat antusias mengikuti rangkaian kegiatan. Ia mengamati prosesi adat dan melihat langsung bagaimana masyarakat Kediri menjaga warisan sejarahnya.
Menurut Saki, upaya pelestarian di Situs Totok Kerot sudah berjalan baik. Namun, ia menilai keterlibatan masyarakat menjadi kunci agar situs sejarah tetap hidup.
“Saya rasa sudah cukup dilestarikan,” ujar Saki dengan bahasa Indonesia.
Ia berharap semakin banyak masyarakat yang mau belajar tentang sejarah dan cerita yang melekat pada situs-situs budaya.
“Mungkin banyak masyarakat belajar sejarah atau ceritanya, kemudian melestarikan,” tambahnya.
Masyarakat Bisa Ikut Merawat Cagar Budaya
Tradisi jamasan Arca Totok Kerot juga menjadi ruang terbuka bagi masyarakat dan wisatawan. Mereka tidak hanya menjadi penonton, tetapi dapat ikut terlibat dalam kegiatan pelestarian.
Eko menyebut siapa pun yang datang dipersilakan ikut membantu membersihkan kawasan cagar budaya.
“Semuanya bisa terlibat. Bahkan masyarakat atau pengunjung yang sedang menonton juga kami perbolehkan ikut bahu-membahu membersihkan cagar budaya ini,” katanya.
Bagi Eko, kegiatan tersebut memiliki makna lebih luas daripada sekadar membersihkan peninggalan batu. Jamasan menjadi pengingat bahwa sejarah harus terus dirawat bersama.
Menyambut Tahun Jawa 1960 Be dengan Harapan Baru
Prosesi jamasan Arca Totok Kerot ditutup dengan doa dan harapan menyambut tahun baru Jawa 1960 Be. Masyarakat berharap tahun yang baru membawa keselamatan, kelancaran, serta kehidupan yang lebih baik.
“Momentum bulan Suro ini menjadi wujud rasa syukur menyambut datangnya tahun baru. Mudah-mudahan di tahun yang baru ini kita semua diberikan kelancaran dan keselamatan dalam setiap langkah ke depan,” pungkas Eko.
Melalui tradisi Merti Cagar Budaya, Totok Kerot bukan hanya menjadi saksi bisu masa lalu, tetapi juga menjadi ruang pertemuan antara sejarah, budaya, dan harapan masyarakat Kediri untuk masa depan.(Nang)











Komentar