Kediri,Wartapanjalu.com– Membutuhkan setidaknya 10 kolam untuk menciptakan sistem panen bergilir, Rumah Lansia Kemanusiaan Gusdurian Mojokutho Pare kini tengah memacu pengembangan budidaya lele mandiri. Langkah ini diambil sebagai strategi jitu untuk menekan biaya operasional sekaligus menjamin ketahanan pangan bagi 51 lansia yang mereka rawat.
Saat ini, baru tersedia empat kolam yang dikelola secara swadaya oleh para relawan. Pengelola menargetkan penambahan enam kolam lagi dengan estimasi kebutuhan dana sekitar Rp 10 juta untuk bibit dan infrastruktur pendukung agar pasokan protein bagi para penghuni tidak lagi bergantung sepenuhnya pada pasar.
Kemelut Biaya Operasional di Tengah Keterbatasan
Koordinator Rumah Lansia Gusdurian Mojokutho, Anugrah Yunianto atau Antok Mleber, mengungkapkan bahwa biaya perawatan lansia mencapai Rp 25 juta per bulan. Anggaran tersebut mencakup kebutuhan makan, kebersihan, hingga fasilitas kesehatan.
”Kami ingin rumah lansia ini tidak sepenuhnya bergantung pada donasi. Kalau ada bantuan, harapannya bukan hanya memberi ikan, tetapi memberi kail agar kami terus bisa bertahan,” tegas Antok, Selasa (12/5/2026).
Lele Sebagai Sumber Protein Murah Berkualitas
Ikan lele dipilih bukan tanpa alasan. Selain teknik budidayanya yang relatif mudah dipelajari oleh relawan, lele memiliki kandungan protein tinggi yang sangat dibutuhkan untuk menjaga kesehatan para “simbah” (lansia).
Relawan Rumah Lansia, Sugeng Santoso, menambahkan bahwa meski sejauh ini hasilnya positif, margin keuntungan finansial masih sangat terbatas karena hasil panen langsung dialokasikan untuk konsumsi harian.
”Hasil panen biasanya langsung dipakai untuk kebutuhan dapur, jadi belum cukup kalau untuk biaya ekspansi mandiri. Itulah mengapa penambahan kolam menjadi target utama kami saat ini,” jelas Sugeng.
Menyulap Kebun Menjadi Lumbung Pangan
Selain fokus pada perikanan, area rumah lansia yang dulunya hanya kebun biasa kini disulap menjadi ruang produktif. Selain kolam, para relawan juga menanam berbagai komoditas pendukung seperti:
Sayuran & Buah: Kelor dan nangka muda.
Apotek Hidup: Jahe, kencur, dan tanaman herbal lainnya.
Transformasi lahan ini tidak hanya mendukung urusan perut, tetapi juga menghadirkan suasana asri yang mendukung kesehatan mental para penghuni.
Ikhtiar Menjaga Kemanusiaan
Bagi komunitas Gusdurian di Pare, budidaya ini adalah simbol kemandirian. Di tengah fluktuasi harga bahan pokok dan ketidakpastian donasi, keberadaan kolam-kolam lele ini menjadi napas buatan yang menjaga pelayanan kemanusiaan tetap berjalan.
Dengan semangat gotong royong, mereka membuktikan bahwa pelayanan terhadap lansia bisa tetap bermartabat melalui kreativitas dan kerja keras di atas tanah sendiri.( Nang )


Komentar