oleh

Penambang Pasir Tradisional Semampir-Mojoroto Bantah Tuduhan Rusak Lingkungan: Kami Murni Manual, Justru Rawat Alam

Kediri,Wartapanjalu.com– Marlan (53 tahun), Ketua Paguyuban Penambang Pasir Semampir – Mojoroto, buka suara menanggapi isu yang beredar bahwa aktivitas penambangan pasir di wilayahnya merusak lingkungan dan membahayakan struktur bangunan umum. Sebagai generasi kelima yang telah menggeluti profesi ini secara turun-temurun selama lebih dari 30 tahun, ia menegaskan seluruh kegiatan yang dilakukan adalah penambangan tradisional sepenuhnya tanpa bantuan mesin, justru ikut menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan sekitar.

 

Warisan Profesi Turun-Temurun, Serap Ratusan Tenaga Kerja

 

Bagi warga Kelurahan Semampir dan sekitarnya, penambangan pasir bukan sekadar mata pencaharian biasa, melainkan warisan leluhur yang dijalankan secara berkelanjutan. Marlan sendiri sudah puluhan tahun menekuni profesi ini, meneruskan jejak nenek moyangnya hingga kini menjadi generasi kelima yang melestarikan cara kerja tradisional.

 

Terdapat 8 titik lokasi penambangan yang membentang dari wilayah Semampir hingga Mojoroto. Aktivitas ini ternyata menjadi tumpuan ekonomi warga setempat, karena mampu menyerap tenaga kerja sebanyak 300 hingga 400 orang. Besaran upah yang diterapkan pun dinilai layak dan membantu perekonomian keluarga: setiap pekerja mendapatkan bayaran Rp60.000 hingga Rp80.000 per hari saat cuaca cerah dan bisa bekerja. Sebaliknya, saat hujan melanda, kegiatan dihentikan total demi keselamatan dan keamanan.

 

“Sudah 30 tahun saya jalani ini, ini warisan turun-temurun, generasi ke lima. Di sini tidak ada yang pakai mesin sama sekali, semuanya murni tenaga manusia,” ungkap Marlan tegas, Selasa (12/5/2026).

 

Cara Kerja Murni Manual: Pakai Songkro, Paco, dan Donak

 

Menjawab keraguan masyarakat mengenai cara pengambilan pasir, Marlan menjelaskan secara rinci sistem kerja yang diterapkan di lapangan. Tidak ada alat berat, tidak ada mesin penyedot, seluruh proses dilakukan secara tradisional. Para penambang bekerja dengan cara menyelam ke dasar sungai menggunakan alat bantu sederhana berupa songkro, paco, dan donak.

 

Perahu yang ada di lokasi hanya berfungsi sebagai sarana pengangkut hasil galian dari tengah ke pinggiran sungai, bukan alat penambangan bermesin. Ia bahkan mengundang awak media untuk turun langsung ke lokasi agar bisa melihat sendiri prosesnya dan membedakan dengan jelas antara penambangan yang merusak dan cara kerja tradisional mereka.

 

“Kalau ada yang pakai mesin di wilayah kami, warga sendiri yang akan memberontak. Kami pakai tenaga sendiri, alat sederhana saja. Bapak-bapak media saya ajak ke tengah, lihat langsung cara kerjanya, supaya tidak ada kesalahpahaman,” tambahnya.

 

Bantah Tuduhan Rusak Lingkungan: Justru Kami yang Merawat

 

Poin paling utama yang ingin diluruskan Marlan adalah tuduhan bahwa aktivitas mereka merusak lingkungan atau mengganggu struktur bangunan seperti tiang jembatan. Ia menegaskan hal itu sama sekali tidak benar. Justru sebaliknya, para penambang tradisional Semampir-Mojoroto memiliki kepedulian tinggi terhadap lingkungan sekitar.

 

Menurutnya, warga penambanglah yang sering kali membersihkan sampah-sampah yang mengapung atau menumpuk di pinggiran sungai. Aktivitas mereka justru membantu menjaga aliran air tetap lancar dan lingkungan tetap bersih. Kerusakan lingkungan yang dikhawatirkan masyarakat, lanjut dia, hanya terjadi pada penambangan yang menggunakan mesin penyedot canggih, dan hal itu sama sekali tidak ada di wilayah kerja paguyuban mereka.

 

“Kami minta klarifikasi ke media agar tidak salah mengartikan. Oknum yang memberitakan kami merusak lingkungan itu salah besar. Kami malah yang merawat sungai ini, membuang sampah agar bersih. Jangan sampai kami dibenturkan dengan aparat penegak hukum karena berita yang tidak tepat,” tegasnya.

 

Harapan: Dapat Pengakuan, Tidak Disamakan dengan Penambang Mesin

 

Marlan berharap perbedaan mendasar antara penambang pasir tradisional dan penambang bermesin dapat dipahami oleh semua pihak, baik masyarakat luas maupun pemerintah. Keberadaan mereka tidak hanya sekadar mencari nafkah, tetapi juga menjaga tradisi sekaligus berperan aktif dalam pemeliharaan lingkungan sungai.

 

Ia berharap ke depannya tidak ada lagi kesalahpahaman yang menimbulkan konflik. Sebagai penyangga ekonomi ratusan warga, kegiatan ini ingin tetap dijalankan secara tertib, aman, dan berkelanjutan, tanpa merusak alam yang menjadi sumber kehidupan mereka sehari-hari.( Nang )

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *