Membatik Massal Jadi Puncak Festival Santri Nusantara 2026, Tradisi Budaya Bertemu Keterampilan Ekonomi
Kediri,WartaPanjalu.com – Sebanyak 10.476 santri Pondok Pesantren Lirboyo, Kota Kediri, mencatat sejarah baru dengan membatik secara massal dalam ajang pemecahan rekor Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI), Kamis (8/10/2026).
Aksi kolosal bertajuk “Santri Membatik, Santri Berkarya, Nusantara Berjaya” itu digelar di Lapangan Pondok Pesantren Lirboyo sebagai agenda utama Festival Santri Nusantara 2026, sekaligus rangkaian peringatan Hari Batik Nasional dan Hari Santri.
Para santri tampak memegang canting dan kain batik, kemudian secara serentak menorehkan malam membentuk motif yang telah disiapkan panitia. Jumlah peserta yang mencapai 10.476 orang membuat kegiatan tersebut resmi dikukuhkan MURI sebagai rekor dunia.
Pengasuh sekaligus Pimpinan Pondok Pesantren Lirboyo Kota Kediri, Agus H. Adibussholeh Anwar (Gus Adib), mengatakan kegiatan tersebut bukan sekadar upaya memecahkan rekor. Membatik menjadi bagian dari ikhtiar pesantren untuk menjaga warisan budaya bangsa.
“Membatik itu sebenarnya tidak asing bagi Lirboyo. Istri dari pendiri Lirboyo dahulu juga berprofesi sebagai pembatik. Jadi ketika hari ini para santri membatik, kita punya sanad jalur yang jelas dan keteladanan yang nyata untuk melestarikan budaya batik,” ujar Gus Adib.

Menurutnya, keterampilan membatik juga memiliki nilai ekonomi yang dapat menjadi bekal santri ketika kembali ke daerah masing-masing.
Terlebih, sejumlah santri berasal dari daerah yang memiliki tradisi kuat sebagai sentra batik. Keterampilan tersebut diharapkan dapat dikembangkan menjadi kegiatan produktif setelah mereka kembali dan berkhidmat di tengah masyarakat.
Kemampuan para santri menggoreskan canting juga dinilai tidak lepas dari kebiasaan mereka menulis kaligrafi atau khat. Gerakan tangan yang terbiasa mengendalikan tinta membuat para santri relatif luwes ketika membentuk motif di atas kain.
Representatif MURI, Sri Widayati, mengapresiasi antusiasme dan keterampilan para santri selama proses pencatatan rekor.
“Karena teman-teman santri sudah terbiasa menggunakan tinta dalam menulis kaligrafi, jadi ketika membatik tangannya lebih luwes,” kata Sri.
Sri mengatakan MURI yang didirikan Jaya Suprana di Semarang pada 1990 telah mendokumentasikan ribuan rekor sebagai bentuk apresiasi terhadap kreativitas dan prestasi masyarakat Indonesia.
Ia menyebut keterlibatan santri dalam pencatatan rekor juga terus berkembang. Rekor yang melibatkan kalangan pesantren tidak hanya berkaitan dengan keagamaan, tetapi juga mencakup seni budaya, literasi hingga keterampilan lainnya.
“Pencatatan ini menunjukkan bahwa pesantren dan santri memiliki ruang yang luas untuk berkontribusi dalam berbagai bidang, tidak hanya keagamaan, tetapi juga seni budaya, literasi, dan ekonomi,” ujarnya.
Pencatatan 10.476 santri membatik di Pondok Pesantren Lirboyo tersebut kemudian dikukuhkan sebagai rekor dunia MURI, sekaligus menegaskan peran santri dalam pelestarian budaya nasional.
Gus Adib berharap momentum tersebut tidak berhenti sebagai seremoni pemecahan rekor. Keterampilan membatik diharapkan dapat terus dikembangkan para santri menjadi kemampuan bernilai seni sekaligus memiliki potensi ekonomi.
Dengan demikian, membatik tidak hanya menjadi cara merawat warisan budaya, tetapi juga menjadi bekal bagi santri untuk berkarya dan memberi manfaat ketika kembali ke tengah masyarakat.(Sum/Her)











Komentar