Kediri, WartaPanjalu.com – Guyonan Anggota Komisi IX DPR RI, Pulung Agustanto, sukses mencairkan suasana sosialisasi Program Bangga Kencana di Gedung Serbaguna Kecamatan Papar, Kabupaten Kediri, Selasa (27/10/2026). Namun, di balik gelak tawa ratusan warga yang hadir, terselip pesan serius tentang pentingnya mencegah stunting demi masa depan generasi Indonesia.
“Apa bedanya Pil KB dan Pileg? Pil KB nek lali dadi, Pileg nek dadi lali,” celetuk Pulung yang langsung disambut gelak tawa dan tepuk tangan warga.
Melalui guyonan khasnya, Pulung mengajak masyarakat memahami pentingnya kehadiran wakil rakyat di tengah konstituen. Ia juga menekankan bahwa persoalan pembangunan keluarga, kesehatan ibu, dan tumbuh kembang anak harus menjadi perhatian bersama.
Dalam kegiatan tersebut, Pulung didampingi Ketua Tim Kerja Pengelolaan Kependudukan Perwakilan BKKBN Provinsi Jawa Timur, Taufik Daryanto, S.Psi., M.Sc., serta perwakilan OPD BKKBN Kabupaten Kediri, Riffa Hanida, S.SiT., M.Kes.
Stunting Kediri Turun, Sekitar 6.000 Anak Masih Terdampak
Di balik suasana santai, Pulung menyoroti capaian penurunan angka stunting di Kabupaten Kediri. Berdasarkan data yang disampaikan dalam kegiatan tersebut, prevalensi stunting yang pada 2021 mencapai 24 persen kini turun menjadi 17 persen pada 2026.
Meski menunjukkan tren positif, upaya penanganan stunting belum selesai. Masih ada sekitar 6.000 anak di Kabupaten Kediri yang mengalami stunting dan membutuhkan perhatian serius.
Pulung menegaskan, pencegahan stunting harus dilakukan sejak dini karena dampaknya dapat memengaruhi pertumbuhan fisik hingga perkembangan kemampuan kognitif anak.
“Bahaya stunting ini permanen. Fisik anak terhambat menjadi jauh lebih pendek dari usianya, otak lamban sehingga sulit belajar. Kondisi ini tidak bisa diobati, hanya bisa dicegah serta didampingi,” tegasnya.
Karena itu, ia mendorong keterlibatan keluarga dan masyarakat untuk memastikan kebutuhan gizi anak terpenuhi serta pertumbuhannya terpantau secara berkala.
Cegah Stunting Tak Harus dengan Makanan Mahal
Sementara itu, Taufik Daryanto menegaskan bahwa keluarga merupakan fondasi utama dalam membangun kualitas sumber daya manusia. Upaya tersebut harus dimulai sejak dini melalui pola asuh yang tepat, pemenuhan gizi, dan lingkungan yang mendukung tumbuh kembang anak.
Ia mengingatkan sejumlah kebiasaan yang perlu dihindari orang tua, mulai dari memberikan makanan pendamping ASI terlalu dini, membiasakan anak mengonsumsi makanan instan, hingga penggunaan gawai secara berlebihan yang dapat mengganggu pola makan dan aktivitas anak.
Menurutnya, pemenuhan gizi seimbang tidak harus bergantung pada makanan mahal. Masyarakat dapat memanfaatkan bahan pangan lokal yang mudah diperoleh di Kabupaten Kediri.
“Gizi hebat tidak harus mahal. Kita bisa memanfaatkan hasil bumi Kediri yang subur dengan memaksimalkan pangan lokal seperti telur ayam, tahu, tempe, hingga ikan lele segar,” ujarnya.
Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa pemenuhan gizi keluarga dapat dimulai dari kebiasaan sederhana di rumah, selama dilakukan secara konsisten dan sesuai kebutuhan anak.
Sanitasi dan Program Lintas Sektor Jadi Kunci
Di sisi lain, Riffa Hanida menjelaskan bahwa penanganan stunting tidak cukup hanya dengan memenuhi kebutuhan gizi. Sanitasi dan akses air bersih juga berperan penting dalam menjaga kesehatan anak.
Ketersediaan jamban sehat dan air bersih diperlukan untuk menekan risiko infeksi berulang, seperti diare, yang dapat mengganggu penyerapan nutrisi dan berdampak pada pertumbuhan anak.
Untuk memperkuat upaya pencegahan, berbagai program lintas sektor terus didorong, di antaranya MBG 3B (Makan Bergizi Gratis bagi ibu hamil, ibu menyusui, dan balita), DASHAT (Dapur Sehat Atasi Stunting), serta GENTING (Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting).
Program-program tersebut diharapkan mampu memperkuat dukungan bagi keluarga, terutama dalam memenuhi kebutuhan gizi kelompok rentan dan meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pencegahan stunting.
Melalui sosialisasi Program Bangga Kencana di Kecamatan Papar, masyarakat diharapkan semakin memahami bahwa penurunan stunting membutuhkan kerja bersama, mulai dari keluarga, kader kesehatan, pemerintah, hingga dunia usaha.
Pemantauan tumbuh kembang anak secara rutin di Posyandu, pemberian makanan bergizi, pola asuh yang tepat, serta lingkungan yang sehat menjadi langkah penting untuk mewujudkan generasi Kediri yang sehat, kuat, dan cerdas menuju Indonesia Emas 2045.(*/Sum/Her)











Komentar