oleh

Dari Balai Desa Puhsarang, BKKBN Jatim dan DPR RI Gelar Aksi Nyata Penanganan Stunting dan Penguatan Ketahanan Keluarga

Libatkan Kader Posyandu dan Lintas Sektor, Program GENTING hingga MBG 3B Disuarakan Langsung untuk Lindungi 1 Juta Keluarga Risiko Stunting

Kediri,WartaPanjalu.com–Upaya percepatan penurunan angka stunting dan penguatan kualitas keluarga di Kabupaten Kediri terus digencarkan. Bertempat di Balai Desa Puhsarang, Kecamatan Semen, pada 28 Oktober 2026, Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) bersama mitra kerja menggelar Sosialisasi Program Bangga Kencana (Pembangunan Keluarga, Kependudukan, dan Keluarga Berencana).

Acara ini menghadirkan sejumlah narasumber penting, di antaranya Sekretaris Badan Perwakilan BKKBN Provinsi Jawa Timur, Ghana Renaldi Panca Surya, S.H., M.Ak., perwakilan OPD BKKBN Kabupaten Kediri (DP2KBP3A) Dra. Sarkaning Dewi Pregiwasari, M.M., serta Anggota Komisi IX DPR RI, Pulung Agustanto. Kehadiran para pemangku kebijakan ini disambut antusias oleh ratusan warga, terutama para ibu dan kader Posyandu setempat.

Dalam paparannya, Ghana Renaldi Panca Surya menekankan pentingnya membangun kualitas keluarga dari hulu sebagai fondasi utama menuju Visi Indonesia Emas 2045. Menurutnya, keluarga adalah unit terkecil masyarakat sekaligus sekolah pertama bagi anak.

Pembangunan manusia tidak bisa dilakukan secara instan, melainkan sebuah investasi terencana yang harus dimulai sejak dini.

Suasana di Balai Desa Puhsarang mendadak cair dan bergemuruh penuh tawa ketika Pulung Agustanto menyampaikan materi dengan gaya khasnya yang merakyat. Anggota Komisi IX DPR RI tersebut melontarkan candaan segar yang langsung akrab di telinga warga.

“Apa bedanya Pil KB dan Pileg? Pil KB nek lali dadi, Pileg nek dadi lali,” ucap Pulung disambut gelak tawa hadirin.

Di balik candaan tersebut, ia menegaskan bahwa kehadirannya di Kediri merupakan bentuk nyata komitmen wakil rakyat yang tidak pernah lupa kepada warganya.

Pulung memaparkan data bahwa angka stunting di Kabupaten Kediri telah mengalami penurunan signifikan dari 24% pada tahun 2021 menjadi 7% pada tahun 2026.

Kendati demikian, ia mengingatkan bahwa tugas bersama belum selesai karena masih ada sekitar 6.000 anak yang menghadapi risiko stunting, dan target bersama harus ditekan hingga 0%.

Sementara itu, perwakilan DP2KBP3A Kabupaten Kediri, Dra. Sarkaning Dewi Pregiwasari, M.M., memaparkan arti penting Pendewasaan Usia Perkawinan (PUP) serta pengaturan jarak kehamilan.

Ia menjelaskan bahwa usia ideal menikah adalah 21 tahun bagi perempuan dan 25 tahun bagi laki-laki demi memastikan kesiapan fisik, mental, maupun ekonomi.

Penggunaan alat kontrasepsi jangka panjang maupun pendek juga menjadi instrumen penting untuk menata kesejahteraan keluarga agar terhindar dari risiko komplikasi kesehatan ibu dan anak.

Melalui sinergi lintas sektor ini, program-program unggulan seperti Makan Bergizi Gratis untuk Bumil, Busui, dan Balita (MBG 3B), Dapur Sehat Atasi Stunting (DASHAT), serta Gerakan Orang Tua Asuh (GENTING) terus digelorakan langsung di tingkat akar rumput. Pemerintah peduli, namun partisipasi aktif orang tua dan masyarakat tetap menjadi kunci utama demi melahirkan generasi Indonesia yang sehat, kuat, dan cerdas.(*/Sum/Her)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed