oleh

Diikuti 8.000 Peserta, Jalan Sehat Mamamia Kediri Ingatkan Bahaya Anak Kecanduan Gadget

Kediri,Wartapanjalu.com– Diikuti sekitar 8.000 peserta, Pusat Kegiatan Gugus (PKG) Kecamatan Pare memanfaatkan momentum jalan sehat ‘Mamamia’ untuk mengingatkan para orang tua mengenai bahaya laten anak kecanduan gadget di era digital. Peringatan tersebut disampaikan di tengah kemeriahan peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2026 yang dipusatkan di kawasan Masjid Agung An-Nuur Pare, Kabupaten Kediri, Sabtu (16/5/2026).

Kegiatan jalan sehat yang berlangsung meriah ini memadati jalanan sejak pagi hari. Ribuan massa tersebut berasal dari jenjang Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), mulai dari Taman Kanak-kanak (TK), Kelompok Bermain (KB), Taman Posyandu (Tapos), hingga Raudhatul Athfal (RA) se-Kecamatan Pare.

Suasana di sekitar Masjid Agung An-Nuur Pare tampak penuh warna dengan hadirnya anak-anak yang didampingi oleh orang tua serta guru pendamping. Mereka kompak mengenakan pakaian olahraga warna-warni yang menyemarakkan suasana.

Adapun rute jalan sehat ini dimulai dari halaman Masjid Agung An-Nuur Pare, melintasi Jalan Puhrejo, berbelok menuju Jalan PB Sudirman, dan kembali finish di titik awal keberangkatan.

Tantangan Era Digital dan Edukasi Gadget pada Anak

Ketua PKG Kecamatan Pare, Hudaya Salamatin, mengungkapkan bahwa jalan sehat Mamamia ini merupakan agenda rutin tahunan yang melibatkan 94 lembaga pendidikan usia dini di Kecamatan Pare. Di balik kemeriahan acara, pihak PKG menyelipkan pesan penting terkait tantangan pola asuh anak modern.

“Harapan kami orang tua selalu mendampingi anak. Karena sekarang tantangannya anak-anak mudah kecanduan HP,” tegas Hudaya.

Sebagai langkah nyata, pihak sekolah bersama PKG Pare secara berkala rutin menggelar kegiatan parenting. Agenda tersebut bertujuan untuk memberikan edukasi kepada wali murid mengenai batasan ketat penggunaan gawai (gadget) serta pentingnya mengalihkan perhatian anak ke aktivitas fisik.

“Anak-anak harus diberikan permainan yang menarik supaya tidak selalu pegang HP,” tandasnya.

Sarana Memperkuat Parenting dan Silaturahmi

Selain menjadi alarm bagi orang tua terkait gadget, ajang tahunan ini juga menjadi sarana efektif untuk mempererat hubungan emosional antara guru, orang tua, dan anak-anak usia dini.

Kepala Bidang PAUD PNF Dinas Pendidikan Kabupaten Kediri, Abdul Kholiq, memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada PKG PAUD Terpadu Kecamatan Pare yang dinilai sukses mengimplementasikan esensi Hardiknas dengan melibatkan seluruh elemen.

“Kami apresiasi setinggi-tingginya kepada PKG PAUD Terpadu Kecamatan Pare yang sudah mengimplementasikan secara nyata peringatan Hari Pendidikan Nasional dengan melibatkan seluruh elemen pendidikan usia dini,” ujar Abdul Kholiq di lokasi acara.

Kholiq berharap, melalui kegiatan fisik beramai-ramai seperti ini, komunikasi parenting antara orang tua dan pihak sekolah dapat berjalan lebih selaras demi mendukung lahirnya pendidikan bermutu.

Kecamatan Pare Jadi Percontohan, Disdik Kediri Soroti Angka ATS

Lebih lanjut, Abdul Kholiq menyebutkan bahwa Kecamatan Pare merupakan salah satu wilayah yang paling aktif dan inovatif dalam menyelenggarakan kegiatan pendidikan anak usia dini. Ia berharap kesuksesan agenda di Pare ini dapat direplikasi oleh kecamatan-kecamatan lain di Kediri.

Di samping mengapresiasi kemeriahan acara, Dinas Pendidikan Kabupaten Kediri juga memanfaatkan momentum ini untuk menyoroti program penanganan Anak Tidak Sekolah (ATS). Berdasarkan data terkini, tercatat ada sekitar 6.000 anak yang masuk dalam kategori ATS dari total keseluruhan sekitar 11.550 anak yang terdata di Kabupaten Kediri.

Guna menekan angka tersebut, Dinas Pendidikan meluncurkan program inovatif bertajuk “Satu Guru Mencari Satu ATS”.

“Nanti guru-guru akan dilibatkan mendatangi keluarga yang berpotensi ATS agar angka anak tidak sekolah bisa ditekan semaksimal mungkin,” jelas Kholiq memaparkan strategi dinas.

Pemerintah daerah juga tengah berfokus menggenjot tingkat partisipasi sekolah untuk anak usia 5-6 tahun yang saat ini berada di angka 98 persen, dengan target mutlak 100 persen demi mewujudkan program wajib belajar 13 tahun.(Nang)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *