Kediri,Wartapanjalu.com– Aula Muktamar Lirboyo mendadak penuh sesak Senin pagi. Sebanyak 6.351 mahasantri Ma’had Aly Lirboyo tumplek blek menyimak kuliah umum bersama Prof. Dr. Moh. Mahfud MD. Mengangkat tema “Sejarah Intelektual UUD 1945: Pergulatan Gagasan Para Founding Fathers hingga Amandemen Konstitusi”, acara ini jadi magnet besar bagi kalangan pesantren di Kediri.
Kuliah umum berlangsung selama empat jam, pukul 09.00–13.00 WIB, dan menjadi ruang diskusi hangat antara tradisi keilmuan pesantren dengan sejarah ketatanegaraan Indonesia.

Mahfud MD: UUD 1945 Lahir dari Perdebatan Panjang
Di hadapan ribuan mahasantri, Mahfud MD membongkar sisi intelektual di balik lahirnya konstitusi Indonesia. Menurutnya, UUD 1945 bukan sekadar produk euforia kemerdekaan.
“Konstitusi ini lahir lewat pergulatan gagasan yang panjang dan mendalam. Ada perdebatan serius di BPUPKI, Panitia Sembilan, sampai PPKI. Di situlah para pendiri bangsa bertarung ide soal dasar negara dan bentuk ketatanegaraan,” tegas mantan Menko Polhukam itu.
Mahfud menyebut Pancasila dan UUD 1945 sebagai “kompromi prismatik”. Artinya, keduanya mampu menampung beragam aspirasi masyarakat Indonesia yang majemuk. “Ini konsensus kebangsaan. Lahir dari dialog, debat, dan pencarian titik temu,” tambahnya.
UUD 1945 Disejajarkan dengan Piagam Madinah
Menariknya, Mahfud MD menyamakan posisi UUD 1945 dengan Piagam Madinah. Jika Piagam Madinah menjadi landasan hidup bersama masyarakat Madinah yang plural, maka UUD 1945 adalah fondasi bangsa Indonesia.
“Keduanya menekankan kesepakatan bersama, persatuan, dan kemaslahatan. Itu prinsip utama dalam membangun kehidupan berbangsa,” jelas Mahfud.
Pernyataan ini disambut anggukan dan catatan serius dari ribuan mahasantri yang hadir.
Fikih Kebangsaan Jadi Fokus Ma’had Aly Lirboyo
Pimpinan Ma’had Aly Lirboyo, KH. Dahlan Ridlwan, menegaskan kuliah umum ini bukan agenda seremonial. Tema yang diangkat sangat nyambung dengan konsentrasi Fikih Kebangsaan yang dikembangkan di Lirboyo.
“Kami ingin mahasantri tidak hanya paham kitab kuning, tapi juga paham konstitusi. Karena nilai keadilan, musyawarah, persatuan, dan penghormatan martabat manusia adalah titik temu Islam dan kebangsaan,” ujar Kiai Dahlan.
Ia berharap forum ilmiah seperti ini melahirkan ulama-intelektual yang membumi, mampu menjawab tantangan zaman, dan tetap berpijak pada nilai Islam rahmatan lil ‘alamin.
Ribuan Mahasantri Antusias, Bukti Pesantren Melek Konstitusi
Total peserta mencapai 6.351 orang, terdiri dari 6.040 mahasantri Marhalah Ula dan 311 mahasantri Marhalah Tsaniyah. Jumlah ini menunjukkan antusiasme tinggi pesantren terhadap isu kebangsaan.
“Ini bukti pesantren tidak alergi dengan wacana konstitusi. Justru pesantren jadi bagian penting penguat wawasan kebangsaan,” kata salah satu panitia.
Lirboyo Tegaskan Komitmen Dialog Keilmuan dan Kebangsaan
Melalui kuliah umum ini, Ma’had Aly Lirboyo kembali menegaskan posisinya: menghadirkan ruang dialog yang mempertemukan khazanah Islam dengan dinamika kebangsaan.
Bukan hanya mencetak ahli fikih, Lirboyo ingin melahirkan intelektual muslim berwawasan luas yang siap berkontribusi untuk peradaban Indonesia.(Nang)


Komentar