Jahe Ketan Pak Lek Imam
Anak Kota Kediri, Masa Depan Indonesia
Kediri,Wartapanjalu.com-Saya menyambut baik Dan memberi poin penghargaan tersendiri kepada Pak menteri Wihaji yang menggagas Gerakan Ayah Mengantar Anak Sekolah — GAMAS — dan digelorakan pada tiap hari pertama tahun ajaran baru
Di rumah saya ada dua dunia yang berjalan bersamaan
Anak pertama dan kedua saya lahir berdekatan. Anak ketiga lahir delapan tahun setelah kakaknya, sepuluh tahun setelah si sulung. Selisih itu terdengar sederhana kalau ditulis di kartu keluarga. Tetapi bagi orang tua, sepuluh tahun adalah jarak antara dua zaman.
Ketika anak-anak pertama saya kecil, kekhawatiran saya sebagai ayah masih sederhana: apakah mereka cukup makan, apakah sepatunya masih muat, apakah nilainya tidak turun. Ketika anak ketiga saya tumbuh, daftar kekhawatiran itu bertambah panjang dan jenisnya berubah. Bukan lagi soal apa yang masuk ke perutnya, tetapi apa yang masuk ke kepalanya. Bukan lagi soal dengan siapa dia bermain di gang depan rumah, tetapi dengan siapa dia bicara di layar genggam yang tidak pernah saya lihat isinya.
Kondisi ekonomi berubah. Teknologi melompat. Dan diam-diam, konsep pengasuhan pun ikut berubah, sering kali tanpa kita sadari, tanpa sempat kita siapkan.
Dulu Saya Memilih Sendiri
Saya termasuk anak yang dibiarkan memilih.
Waktu hendak masuk SMP, saya sendiri yang menentukan. Waktu ini saya PD saja, karena DANEM saya tertinggi di kecamatan domisili, jadi relative bisa memlih SMP yang diinginkan. Masuk SMA, saya sendiri yang juga memutuskan. Bahkan ketika melangkah ke bangku kuliah, keberanian mengambil keputusan itu saya panggul sendiri.
Orang tua saya hadir, tentu saja, tetapi mereka hadir dengan cara yang berbeda: mereka percaya, lalu melepas.
Cara itu berhasil untuk zaman saya. Perubahan waktu itu berjalan pelan. Salah pilih pun masih ada waktu untuk berbelok.
Hari ini tidak lagi begitu. Perubahan berlari jauh lebih cepat daripada kemampuan seorang anak membaca arah. Informasi datang bertubi-tubi, tidak semuanya benar, dan tidak satu pun disertai petunjuk penggunaan. Keputusan yang dulu bisa diambil sendiri kini menuntut pendamping. Bukan karena anak-anak kita lebih lemah, mereka justru lebih kritis dan lebih terbuka, melainkan karena medan yang mereka hadapi jauh lebih ramai.
Di sinilah letak pergeserannya: dulu orang tua cukup memberi restu, sekarang orang tua dituntut memberi waktu.
GAMAS: Cara Cerdas “Memaksa” Ayah Pulang
Karena itu saya menyambut baik Gerakan Ayah Mengantar Anak Sekolah – GAMAS – yang digelorakan pada hari pertama tahun ajaran ini.
Sekilas, gerakan ini terlihat sepele. Hanya mengantar anak ke gerbang sekolah. Tetapi justru di kesederhanaan itulah kecerdasannya.
GAMAS bekerja dengan cara yang jarang dipakai kebijakan publik: ia tidak menceramahi, ia menciptakan situasi. Ia “memaksa” para ayah, dengan cara yang menyenangkan, untuk hadir secara fisik dalam urusan pendidikan anaknya. Dan sekali seorang ayah berdiri di depan gerbang sekolah, ia akan melihat hal-hal yang selama ini hanya ia dengar dari istrinya. Ia melihat wajah guru anaknya. Ia melihat kondisi ruang kelas. Ia melihat teman-teman anaknya. Ia melihat jalan yang setiap hari dilalui anaknya, lengkap dengan lubang dan simpang rawannya.
Dari situ terbuka ruang intervensi. Ayah yang tadinya hanya penyedia nafkah berubah menjadi pihak yang punya kepentingan, punya pendapat, dan punya alasan untuk terlibat.
Saya hanya ingin menambahkan satu catatan: GAMAS jangan berhenti di hari pertama. Kehadiran ayah bukan seremoni tahunan. Kalau gerakan ini hanya hidup satu hari lalu tidur sebelas bulan, ia akan menjadi foto yang bagus tanpa perubahan yang nyata. Yang kita butuhkan bukan satu pagi yang mengharukan, melainkan kebiasaan baru yang bertahan.
Mendengar Anak Adalah Kebijakan
Momentum kedua datang pada Hari Anak Nasional 2026, dengan tema Sayang Anak, Lindungi, dan Bangun Masa Depan.
Kota Kediri memperingatinya dengan menggelar Kongres Anak, anak-anak dikumpulkan, diminta bicara, dan suara mereka dibukukan. Saya kira ini langkah yang benar. Selama ini anak selalu diposisikan sebagai penerima manfaat pembangunan. Padahal anak juga pemilik pendapat.
Beberapa waktu lalu, dalam sarasehan bersama ratusan guru di Mojoroto, saya menyampaikan keprihatinan atas kasus-kasus tragis yang menimpa anak usia sekolah. Ada sinyal-sinyal yang sebenarnya bisa dibaca lebih awal, kalau saja ada yang mendengarkan. Guru mendengar. Orang tua mendengar. Pemerintah mendengar. Tetapi mendengar saja tidak cukup; yang didengar harus punya tempat untuk bermuara.
Maka pekerjaan rumah kita jelas: dokumen Suara Anak Kota Kediri jangan berhenti menjadi arsip. Ia harus naik, masuk ke meja pembahasan, dan menjelma menjadi norma. Di situlah tugas kami di lembaga legislatif dipertaruhkan.
Musim Pendaftaran dan Musim Libur
Dua momentum berikutnya lebih dekat lagi ke dapur rumah tangga.
Pertama, musim pendaftaran sekolah. Setiap tahun kita menyaksikan pemandangan yang sama: orang tua cemas, berburu “sekolah unggulan”, rela mengantar anak jauh dari rumah demi label.
Padahal arah kebijakan kita sudah jelas, zonasi yang matang, pemerataan mutu, dan penghapusan stigma sekolah unggulan. Tugas kita bukan menyalahkan kecemasan orang tua, melainkan menghapus alasan kecemasan itu. Selama mutu belum merata, imbauan sebaik apa pun tidak akan didengar.
Kedua, musim libur anak. Ini momentum yang paling sering luput dari kebijakan. Kita sibuk mengurus anak selama enam jam di sekolah, lalu membiarkan berminggu-minggu liburan berlalu tanpa rancangan. Padahal libur adalah ruang terbuka yang paling jujur: di sanalah karakter anak terbentuk oleh apa pun yang kebetulan mengisinya. Kalau kita tidak mengisinya dengan hal baik, akan ada yang mengisinya dengan hal lain.
Kota ini punya modal untuk itu, masjid dan musala yang hidup, pesantren yang terbuka, taman dan ruang publik, komunitas seni dan olahraga. Yang belum kita punya adalah kesengajaan untuk menautkannya menjadi satu ekosistem.
Merawat Iklim, Bukan Sekadar Gedung
Ada satu hal yang membuat saya optimistis.
Secara historis, orang Kediri selalu punya tempat di panggung nasional. Itu bukan kebetulan. Kota ini sejak lama memiliki iklim yang ramah bagi tumbuhnya ilmu, dari jejak Dahanapura, dari tradisi pesantren yang mengakar, dari sekolah-sekolah yang melahirkan orang-orang berkarakter. Kediri tidak pernah menjadi kota besar, tetapi ia konsisten menjadi kota yang melahirkan orang besar.
Yang kita warisi bukan gedung. Yang kita warisi adalah iklim, cuaca budaya yang membuat belajar terasa wajar, membuat menghormati guru terasa wajar, membuat kesederhanaan terasa terhormat.
Iklim tidak bisa dibangun dengan anggaran satu tahun. Tetapi ia bisa rusak hanya karena satu generasi lalai merawatnya. Karena itu tugas kita sebagai generasi penerus bukan menciptakan sesuatu yang baru dari nol, melainkan menjaga api yang sudah menyala.
Melestarikan budaya luhur warga Kediri, lalu menerjemahkannya ke dalam bahasa zaman ini, ke dalam kebijakan, ke dalam peraturan daerah, ke dalam kebiasaan sehari-hari.
Sebab pada akhirnya, GAMAS, Hari Anak Nasional, pendaftaran sekolah, dan liburan anak bukanlah empat agenda yang terpisah. Keempatnya satu urusan: kehadiran orang dewasa dalam hidup anak-anak kita.
Anak-anak Kota Kediri hari ini adalah orang-orang yang akan menjaga Indonesia tiga puluh tahun lagi. Kalau hari ini kita hadir untuk mereka, kelak mereka akan hadir untuk bangsa ini.
Di Kota inilah api ilmu tak pernah padam. Tugas kita sederhana, meski tidak mudah: menjaga agar ia tetap menyala.
*Penulis adalah Pak Lek Imam, Imam Wihdan Zarkasyi — Ketua Fraksi Partai Golkar DPRD Kota Kediri*











Komentar