Kediri,Wartapanjalu.com--Suasana Pasar Bandar Kota Kediri mendadak sepi, Selasa (1/9/2026). Bukan karena sepi pembeli, tapi karena lebih dari 200 pedagang kompak menutup kiosnya. Mereka mogok jualan.
Aksi ini adalah bentuk protes dan solidaritas atas kebijakan pengelolaan pasar oleh Perumda Pasar Joyoboyo Kota Kediri yang dinilai semakin memberatkan dan membuat pasar kehilangan pengunjung.
Pedagang gerabah Pasar Bandar, Yunus, menyebut persoalan ini sudah menumpuk sejak pengelolaan pasar dialihkan dari Pemerintah Kota Kediri ke Perumda Pasar Joyoboyo, sekitar tiga tahun terakhir.
“Dulu saat dikelola langsung Pemkot melalui dinas, pengelolaan lebih manusiawi. Harapan kami pasar itu ramai, ekonomi lancar, bisa bantu ekonomi mikro. Tapi beberapa regulasi baru justru bertolak belakang,” ujar Yunus.
Sistem Parkir dan Akses Ditunding Bikin Pengunjung Anjlok
Sorotan utama pedagang adalah perubahan sistem pintu masuk-keluar dan pengelolaan parkir yang diterapkan sekitar dua tahun terakhir.
Setiap akses kini dijaga petugas yang menarik retribusi. Imbasnya langsung terasa.
“Setelah sistem seperti itu, pengunjung menurun drastis. Kami sudah lama protes, tapi belum ada solusi. Kami ikut aturan, tapi lama-lama aturan baru semakin banyak,” keluhnya.
Sewa Rp200 Ribu, Tapi Isi Perjanjian Memberatkan
Pedagang juga mempersoalkan transparansi sewa kios. Awalnya mereka hanya disosialisasikan biaya sewa Rp200 ribu per tahun per kios.
Kejanggalan muncul setelah tanda tangan. Buku perjanjian baru diberikan seminggu kemudian, dengan banyak syarat dan ketentuan yang tak pernah dijelaskan di awal.
“Awalnya hanya disuruh bayar Rp200 ribu per tahun. Tidak ada sosialisasi lengkap soal syarat dan ketentuan. Setelah kami tanda tangan, baru buku diberikan. Ternyata banyak faktor yang memberatkan. Kami jadi tidak punya kepastian hak atas kios,” ungkap Yunus.
Kios Tutup Malah Kena Tagihan Rp1,2 Juta
Puncak keresahan terjadi belakangan ini. Pedagang yang terpaksa tutup kios karena sepi atau ada keperluan, justru mendapat tagihan.
Tagihan itu muncul untuk periode kios tidak beroperasi Januari hingga Agustus 2026. Nilainya bervariasi, mulai Rp160 ribu hingga Rp1,2 juta per pedagang.
“Dulu kalau tutup ya tidak seperti ini. Sekarang ada aturan lagi, kalau tutup dihitung dan muncul tagihan. Pedagang jadi khawatir mau tutup, padahal kadang memang tidak bisa jualan,” katanya.
Tuntut Duduk Bersama 4 Pilar
Yunus menegaskan, mogok ini bukan untuk melawan aturan, tapi menuntut dialog.
Pedagang meminta ada pertemuan empat pilar: pedagang, Pemkot Kediri sebagai pemilik pasar, Perumda Pasar Joyoboyo sebagai pengelola, dan DPRD Kota Kediri sebagai pengawas.
“Pasar Bandar ini milik Pemkot Kediri. Kami ingin empat pilar duduk bersama. Kami cari win-win solution. PAD tetap tercukupi, tapi pedagang juga dapat kepastian hukum,” tegasnya.
Aksi mogok disepakati hanya satu hari, Selasa ini. Padahal sempat muncul usulan mogok tiga hari atau tutup bergilir.
“Kami ambil jalan tengah, satu hari saja. Insyaallah besok Rabu, teman-teman mulai berdagang lagi. Untuk pelanggan Pasar Bandar, monggo besok bisa berbelanja lagi. Kita ramaikan lagi Pasar Bandar,” ajaknya.
Di sisi lain, Perumda Pasar Joyoboyo melalui Dirut Djauhari Luthfi, SE., SH., disebut sudah membuka ruang dialog. Pedagang berharap dialog kali ini tidak hanya dua pihak, tapi melibatkan Pemkot dan DPRD agar keputusan lebih mengikat dan adil.
Bagi mereka, Pasar Bandar bukan sekadar lapak. Ini adalah denyut nadi ratusan pelaku usaha kecil yang menopang ekonomi Kota Kediri.(Sum/Her)











Komentar